KEBUN BIBITKU


Kawan, apa yang telah kalian lakukan, untuk meletarikan lingkungan hidup di tempat tinggalmu ? Tentu banyak dan beragam ya…Seperti halnya diriku yang kebetulan tinggal di desa dan mempunyai halaman yang cukup luas untuk sekedar menanam pohon buah – buahan di sekitar rumah, agar suasana  makin asri  dan nyaman untuk di tinggali.

kebun bibit pohon duku

bibit pohon duku tampak dari samping

Selain untuk menanam pohon, halaman samping rumah juga kami pergunakan sebagai tempat untuk penyemaian bibit  berbagai macam pohon buah – buahan. Dengan harapan kelak bibit – bibit itu berguna bagi kelestarian lingkungan hidup di masa yang akan datang.

bibit pohon manggis yang baru berumur kira2 1 bulan

bibit pohon manggis tampak dari samping

Bagaimana tertarik dengan bibit – bibitku ? Silakan mampir ke rumahku yaaa…. ^_^

Iklan

10 pemikiran pada “KEBUN BIBITKU

  1. WOW …. salut !! nggak nangka begitu banyak bibitnya, terus mau ditanam semua mbak bibitnya ?

    kalau org sini hampir 50% penduduknya suka berkebun mbak, jadi jgn ditanya musim kayak gini pada sibuk di halaman rumah masing masing, berkebun itu jadi gaya hidup di sini mbak, trend gitu,
    jadi di mana mana ijo royo royo deh

  2. Iya Mbak di halaman rumah ada ribuan bibit pohon, yang nantinya setelah berumur 1 – 2 tahun bisa langsung di tanam di tanah pekarangan.
    Itu ga semuanya kami tanam sendiri, lainya kami jual, biasanya sudah pesanan dari Dinas Kehutanan atau Dinas2 lain yang terkait. Di sini lagi gencar2nya Program Tanam Seribu Pohon yang di canangkan Bapak Presiden.

    Waaahh kampung kedua Mbak Ely emang top banget, kalo aku liat di foto-foto Mbak Ely sangat menyenangkan sekali gaya hidup mereka di sana.
    Yang aku salut banget ..itu lho yang kemana – mana naik sepeda..selain menyehatkan badan lingkungan juga tidak tercemar polusi, di mana – mana bersiiihhhh banget ! Di tambah gaya hidup yg suka berkebun itu, waddeeeewww…..jempol 4 deh Mbak !! Kapan ya..di sini punya gaya hidup seperti mereka..pengin deh, niru mereka .. 😦

    • budaya mungkin yg lain ya mbak, kalau di tanah air sana khan semua serba murah ya mbak, tenaga kerja maksudnya, jadi orang biasa menyuruh orang lain untuk bersih2 kebun kalau mereka perlu, jadi bukan mereka sendiri yg menangani krn tenaga kerja yg begitu murah kalau dibandingkan sama sini, coba di sini nyewa tukang kebun mbak apa mau bayar 30 – 40 Euro perjam ? (perjam lho mbak bukan perhari !) bisa bangkrut deh

      padahal kalau dipikir, berkebun itu menyehatkan mbak, kayak olah raga, aku saja ketularan sama org sini, walau dulu di kampungku sana aku sudha suka nanam nanam

      terus di tanah air sana orang orang khan sdh terbiasa dilayani ya mbak, jadi banyak yg gengsinya tinggi hrs bersih bersih kebun sendiri, apalagi pembantu juga murah bayarannya di sana, sama spt tukang kebun, pembantu di sini juga dibayar perjam, bisa bangkrut deh kalau punya pembantu yg kayak di tanah air yang 24 jam sehari, bulanan, tahunan wadewww !!, atau mnrtku juga org akan gengsi kalau ke mana mana pakai sepeda, spt orang miskin saja kali ya, selain itu tak byk hal yg menunjang utk bisa bersepeda di sana mbak, udara yg panas, jalan khusus buat sepeda ndák ada, lalu lintas yg padat , bahaya sekali dan pasti msh byk alasan lainnya .. aduh .. kadang aku mikir kok bisa beda banget ya di sana sama di sini mbak, di sini bisa dikatakan tiap orang punya sepeda, walaupun di rumahnya ada satu atau 3 mobil lebih

  3. Yups, bener banget Mbak, budaya di sini beda sama budaya di sana…selain lain ladang lain ‘kinjeng’nya.di sini.juga kurang kesadaran akan arti pentingnya menjaga lingkungan.

    Di sini memang aneh ya..knapa gengsi kalo bersepeda ya, padahal menyehatkan, murah dan ramah lingkungan. Memang benar juga fasilitas.untuk bersepeda di sini sangat kurang apalagi di kota – kota besar. Beberapa waktu lalu ada trend B2W ( Bike to work ), tetapi dg adanya banyaknya kecelakaan yang menimpa pengguna sepeda, sekarang jadi agak surut peminat sepeda. Sayang sekali ya..Mbak.

    Beruntung aku tinggal di desa jadi masih bebas kesana kemari bersepeda, tanpa rasa kuatir dg hal2 yang tak di inginkan.

    O ya mbak, tenaga kerja di sana sangat dihargai yaaa…Salut tenan aku !!

  4. desanya dimana tuh mbak? seru ya bisa berkebun, aku sih suka liat yang ijo2, tapi klo ada uletnya bisa lari cepet deh 😦
    kami juga bercita2 punya kebun mbak, sedikit2 diwujudkan, hasil dr kebun sengon bisa dirasa kurang lebih 5 tahun lg, walau sert tanah belom balik nama hehehe, ngumpulin duit dulu :p

  5. •‧::‧• ♥♏ªƙªsίђ♥ •‧::‧• Kunjunganya Neng Fey…

    Aku dari Purworejo, Jateng…seneng yg ijo royo2 juga yaa..ulat memang kecil yaa..tp bikin kita ngibrit hiii..

    Wah cita – citanya baguss banget tuu..di desaku juga kebanyakan warga begitu, jika punya pekarangan yg nganggur di tanami pohon sengon atau jati..buat tabungan di tahun – tahun mendatang bila memerlukan biaya untuk macam2 keperluan, tinggal di jual.. :hehehe 🙂

  6. “Iya Mbak di halaman rumah ada ribuan bibit pohon, yang nantinya setelah berumur 1 – 2 tahun bisa langsung di tanam di tanah pekarangan.”

    lama juga ya mbak nunggunya sampai bisa di pindah ke lahan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s