[ BeraniCerita #2 ] Jalan Berkabut


” Bahagiakah kamu menikah denganku, Sruti ? ”

” Alhamdulillah, Allah memberiku jodoh yang baik seperti kamu, Mas “, Sruti masih bergayut manja pada lengan Febru suaminya.

” Rasa – rasanya Allah memang sangat sayang padaku, dan selalu memberi lebih, dari yang aku mau “.

Pagi yang sangat cerah, seperti mengerti isi hati sepasang pengantin baru Sruti dan Febru. Di rumah  mungil, rumah hasil kerja keras mereka,  Mengikat janji sehidup semati untuk menapaki babak kehidupan baru akan sebuah cita – cita mulia untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah dan penuh rahmah.

” Sruti, tolong aku buatin kopi dong, hari pertama masuk kerja nih, biar semangat nanti kalo di ledek teman – teman di kantor “.

” Yang mix ato yang biasa ? ”

” Seadanyalah, yang penting bisa menambah semangat kerjaku “.

” Mas, jangan lupa, bawa kue – kue itu buat teman – teman kantormu ya, anggap aja sebagai syukuran pernikahan kita, maklum kita kan nikahnya jauh di kampung, jadi mana mungkin kita mengundang mereka ya, kan ?

” Oke, aku berangkat dulu ya ?”

Tok…tok..tok…!

” Benar ini rumah Saudara Febru Arijanto ?”

” Benar Pak, maaf ada apa ya ?

” Siapa Sruti ?, seru Febru dari samping rumah seraya menuntun motornya menuju pintu depan.

” Maaf, tidak bisa saya jelaskan di sini,  Anda kami bawa untuk di periksa di kantor kami “! tegas Bapak berbadan tegap lengkap dengan pakaian seragam dinasnya.

Masih segar dalam ingatanku peristiwa menyakitkan itu, dan kini yang kutemui hanya selembar kertas lusuh, di pojok sel tahanan, terpercik darah kering di bagian atasnya,  tertulis beberapa kata, yang terlihat kamu begitu tergesa – gesa menulisnya.

Sruti, maafkan aku yang tidak sempat membahagiakanmu…

Bila kamu tak bisa menemui aku lagi, itu karena aku  membela diri karena aku tidak mau dituduh melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan. Sampai ajal menjemputpun aku tetap akan membela diri, karena kebenaran dan keadilan harus di tegakan di Bumi Allah ini.

Sruti, jika maut memisahkan kita, semoga kita dipertemukan kembali di pintu surgaNya nanti. Amin.

Raungan sirene memecah keheningan jalan berkabut menuju pemakaman sore ini.

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

Iklan

15 pemikiran pada “[ BeraniCerita #2 ] Jalan Berkabut

    • Dah tak sunting ya..biar ga bingung…hehehe..tadinya mo cerita halusinasinya orang lagi depresi akut tuh kayak apa sii..tapi kok susyee yaa…

      Eh, makasih komentar dan kunjunganya yaa..salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s