Dapet kue yang gak sekeranjang


Hari raya Imlek udah berlalu, tapi masih ada yang tersisa di kulkas yaitu  dua gelintir kue berwarna coklat dan ijo yang tak pernah di lirik sekalipun sama anak – anak, gak tau kenapa juga gak dilirik, padahal ini kue enak, bikinya pun susah dan cuma setaun sekali loh dapetnya.

hhhmmmm..!

hhhmmmm..!

Hari Raya Imlek adalah identik dengan kenangan tentang Nenekku, karena waktu aku masih kecil, Nenekku juga  sering dapet kue seperti itu, yang lazim di sebut kue keranjang, yang dalam angan kecilku, kue keranjang itu berbentuk seperti keranjang ato dapet kue yang banyaknya sekeranjang, ee tapi jebulnya kue keranjang itu kue yang mirip dengan kue jenang,  kue yang sering tersaji  di hajatan wong Jowo dan bentuknya bulet – bulet kayak tabung di potong itu.

Karena  Nenekku seorang pedagang di pasar yang ‘hopeng‘ ( hau + beng = baik + teman = di baca houpeng = sohib baiknya ) kebanyakan Encim – Encim di sekitar pertokoan  pasar, jadi dapet kue keranjangnya lumayan banyak juga, oleh Nenek biasanya kue tersebut di iris tipis, di celup ke kocokan telur kemudian di goreng, perasaan waktu itu kuenya enak sekali, karena setiap kali mateng aku selalu berebutan kue keranjang goreng dengan adik – adiku. Tapi sekarang ? Boro – boro anak – anaku berebutan, di kedipinpun tidak, kue keranjangnya jadi penghuni tetap kulkas.  Hehehehe

Tapi apa sih sebenarnya kue keranjang itu, nih aku kutipin yak, sekalian untuk menebus rasa penasaranku tentang kue keranjang yang bertahun – tahun yang lalu sering kunikmati bersama Nenek tercinta :

Kue keranjang (ada yang menyebutnya Kue ranjang) yang disebut juga sebagai Nian Gao (年糕) atau dalam dialek Hokkian Ti Kwe (甜棵) , yang mendapat nama dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang, adalah kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula , serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket . Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaan tahun baru Imlek . Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, tujuh hari menjelang tahun baru Imlek (廿四送尫 Ji Si Sang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah tahun baru Imlek)

Dipercaya pada awalnya kue, ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan dewa Tungku (竈君公 Cau Kun Kong) agar membawa laporan yang menyenangkan kepada raja Surga (玉皇上帝 Giok Hong Siang Te). Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.

Wah ternyata, dalam sebuah kue terkandung filosofi yang keren banget yah !

Sahabat Blogger, ada yang punya resep kue keranjang itu enaknya di apain lagi, selain di goreng ? Boleh aku tahu ? Sapa tau jadi cemilan baru yang gak cuma di kedipin anak – anak tapi juga buat rebutan. 🙂

Iklan

40 pemikiran pada “Dapet kue yang gak sekeranjang

  1. Digorengnya sekarang kayak gimana mba? Goreng pakai tepung ya? kesukaan saya tuh (tapi dah lama gak makan, tahun ini juga gak ada.. mama kasih ke tetangga semua)

    Selain digoreng, yang saya suka lagi adalah dikukus. nanti makannya dicocol ke kelapa parut (yg dikasih garam – soal selera sih ini).

  2. Baru ngerti ttg filofofi kue ini

    wah . aku belum ngerti ttg resep kue ranjang enaknya diapakan mbak, maklum nggak bgt suka yg manis manis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s