[ Berani Cerita #07 ] : Si Pendiam yang Aneh


Gemeriap pesta pedang pora, membucahkan bangga dalam dadaku. Berdentam. Bertalu – talu. Bergemuruh sekaligus khidmat, syahdu dan sakral !

Laki – laki muda gagah tegap menggamit pengantinnya, perlahan mantab berjalan di bawah gapura pedang pora, yang terdiri dari 13 laki – laki muda  tak kalah gagahnya. Laki – laki muda yang mengenakan baju pengantin militer serba putih itu, bermuka manis dengan badan yang kuturunkan kepadanya. Tegap dan menjulang. Ya, dia anakku ! Anak lelakiku satu – satunya. Yusuf Tegar Hanggara !

Menunggu di sana di samping pelaminan serba emas bertabur melati sang Ibunda tercinta, anggun dengan senyum menawan, tengah sangat berbahagia karena anak lelaki satu – satunya memberikan kehormatan sangat luar biasa bagi sejarah hidupnya.

Ya, dia istriku Aisha ! Anggun dengan balutan kebaya biru muda dan kerudung biru kombinasi putih, cantik sekali dia. Masih seperti berpuluh tahun lalu sejak ku mengenalnya. Tak sedikitpun menampakan bahwa dia pernah terluka terlalu dalam , ketulusan dan kesabaranya menjalani hidup menjadi rona bahagia yang semakin memancarkan pesonanya.

Aku ? Tak lebih hanya seorang lelaki pecundang yang tengah menikmati dosa  kesombonganku. Memilih perempuan lain dengan pongah  membara,  ketimbang menjalani hidup bersama Aisha dan Yusuf di masa kejayaanku sebagai manusia terkaya di kampungku.

” Eh, hebat banget ya si Yusuf ini, sudah ganteng, cerdas , menjunjung martabat orang tuanya pula, senengnya kalo punya anak seperti ini ya, Jeng “.

Serombongan tamu undangan berpenampilan intelek, berbisik – bisik di sebelahku.

” Bener Jeng, apa ya doanya biar anak – anak kita bisa seperti ini ?” timpal ibu yang terlihat paling kenes di rombonganya.

” Ibu pengantin laki – lakinya juga cantik ya, tapi  Bapaknya yang mana ya ? ” Kok sedari tadi tak tampak ? ”

Aku tak mau mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut, kutinggalkan gemeriap pesta pedang pora dengan berjuta rasa pilu di dada. Kupenuhi separo kepalaku dengan topi pandan lebar teman setiaku dalam mengais sisa sampah kampung ini.

**************

Iklan

33 pemikiran pada “[ Berani Cerita #07 ] : Si Pendiam yang Aneh

  1. Penyeselan itu selalu datang belakangan ya Mbak Lies..Yah ketika nasi telah jadi bubur tak ada yg lain yg bisa dilakukan kecuali menelannya. Keren sudut pandang ceritanya Mbak 🙂

  2. Ceritanya bagus, mbak. tapi masih ada beberapa istilah yang perlu diperbaiki. Misalnya, yang betul mantap, bukan mantab. Kemudian gemeriap itu apa artinya? Tidak saya temukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Satu lagi, kata pora itu menempel dengan kata pesta (menurut KBBI jilid 3) karenanya kurang tepat jika dipadukan dengan pedang pora.
    Bukankah penulis yang baik adalah penulis yang tidak hanya memikirkan cerita tapi jga memerhatikan penggunaan kata-kata dalam penulisannya? 🙂

    • Makasih ya Sulung..atas koreksinya yang membangun dan buat bahan pembelajaranku.

      kalo kata pedang pora itu aku ambil dari upacara pernikahan di kalangan militer 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s