SELAMAT ULANG TAHUN JAKARTA !


Jakarta486Cerita soal hidup di Jakarta ? Hmmmm…begitu banyak yang mesti saya ceritakan, meskipun cuma numpang hidup selama tujuh tahun, tapi begitu banyak kenangan indah dan mengasyikan selama merantau di Ibukota.Menengok sekilas cerita saya, kenapa sampai jadi orang perantauan di sana, itu semua berkat Bapak yang memaksa saya untuk merantau ke Jakarta, karena melihat anak gadisnya cuma mengurung diri di kamar selepas menyelesaikan sekolahnya.

Di pertengahan tahun 1995, dengan amat sangat terpaksa saya tinggalkan kampung halaman tercinta, menuju ibukota, berbekal ijasah dan uang seadanya, berangkatlah ke Ibukota bersama seorang sahabat yang telah sukses. Sekalipun tak pernah terlintas dalam benak saya, akan bekerja di Jakarta, tapi itulah yang terjadi. Selama dua minggu menjadi pencari kerja di belantara Ibu kota. Tak peduli terik mentari membakar, atau deras hujan mengguyur kususuri jalanan Jakarta untuk sekedar mendapat pekerjaan apapun itu, yang penting halal. Dari pintu ke pintu kutawarkan sebuah nama, Ebiet G Ade banget ya ?

Atas bantuan seorang sahabat, sayapun mendapat pekerjaan yang layak, meskipun tidak sesuai dengan angan – angan, tetapi tidak menjadi masalah yang penting bisa untuk biaya hidup sehari – hari cukuplah. Urusan lain – lain pikir belakangan. Pokoknya di buat asyik sajalah. Hari demi hari kulewati tanpa halangan berarti, meski terkadang mengalami gagap budaya. Kujalani hari – hari penuh rasa syukur dan senang.

Hingga suatu saat, berkat niat, tekad dan sedikit nekad untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi, saya di terima di perusahaan asing yang cukup besar. Ada kebanggaan tersendiri ketika menyadari, ternyata saya mampu menaklukan Ibukota, yang ternyata tidak sekejam yang saya bayangkan. Kenapa ? Seperti asumsi banyak orang bahwa idiom Kejamnya Ibu Tiri tak Sekejam Ibu Kota itu, tak pernah saya alami. Alhamdulillah.

Sibuk, terburu – buru,  berkawan debu dan macet adalah rutinitas dan dinamika yang saya nikmati setiap hari.Di dera macet tak menjadi halangan untuk tetap mencintai perjalanan menuju tempat bekerja. Tak jarang saya malah menikmati pemandangan dari dalam bis kota, pekerja yang lalu lalang di depan mata, tak terkecuali pekerja informal yang memenuhi jalanan Ibukota, yang tentunya semua mungkin seperti saya mempunyai cita – cita dan semangat tinggi untuk mencari penghidupan lebih baik  di Jakarta.

Pernahkah saya mengalami banjir ? Setiap tahun pemirsa ! Karena saya tinggal di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara,  tahu kan ya, di sanalah banjir menjadi amat terbiasa bagi warganya, termasuk saya. Naik perahu karet ataupun jalan kaki dengan air setinggi paha orang dewasa adalah menjadi hal biasa bagiku. Sedihkah ? Enggak juga karena semua saya nikmati berkah air melimpah dari Allah ini. Mau menyalahkan siapa ? Kota Bogor yang rajin mengirim banjir atau pembangunan Ibukota yang semakin membabi buta ? Daripada capek hati dan pikiran lebih baik dinikmati saja bukan ?

Beruntung selama tinggal di Jakarta, sedikitnya pernah tujuh kali ikut merasakan kemeriahan hari  Ulang Tahun Ibukota negara tercinta ini, beberapa kali pula mengenakan pakaian khas Betawi ala None Jakarte, karena waktu itu bertugas sebagai penerima tamu di sebuah acara di perusahaan. Awalnya protes juga sama Mbak periasnya, karena saya memilih baju wana pink, eh tapi kerudung padanannya dipilihkan warna ijo pupus, coba bayangkan penampakan saya ! Hahahaha…cantikkah, saya ? Anggap saja iye !  Hehehe :). Untuk tahun selanjutnya, ya pasrah saja wes, mau di dandanin kayak apa okeh saja, pun ketika mesti harus jadi ondel – ondel hihihi.

Bagaimana rasa penganan kota Betawi yang selalu menampakan diri di hari Ulang Tahun Jakarta yang  bernama Kerak Telor itu ? Yap, penganan ini sering ditemukan di arena PRJ ( Pekan Raya Jakarta )  dan mumpung saya masih berada di Jakarta, wajib pula mencicipinya, walaupun menurutku terasa aneh, itu beras ketan di bakar sama telur dadar, rasanya mirip – mirip kerak nasi di campur telur itu. Bagaimana cara membuat dan resep Kerak Telor itu ? Googling saja ya prens ! 🙂

Bicara soal makanan khas Betawi, saya paling suka sama asinan Betawi, Soto Betawi, Nasi Uduk dan semua  yang ada di sepanjang jalan Rawamangun  dekat Arion Plaza itu…ah jadi pengin ke sana saya.. :). Segala yang ada di sana kurasa sungguh menggugah selera dengan suasana yang mengasyikan ( itu dulu, gak tau kalo sekarang 😛 )

Mungkin heran ya, kenapa hidup di Jakarta saya bilang asyik, setidaknya di sinilah saya menemukan pasangan hidup, belahan jiwa yang kini telah menjadi Bapak dari kedua buah hatiku, di sinilah pertama kali mengarungi bahtera hidup baru, pengalaman kehamilan pertama yang menakjubkan, melahirkan dan belajar menjadi ibu di perantauan jauh dari sanak saudara. Kebayang kan asyiknya ?

Tapi pernah juga mengalami kejadian yang membuat miris dan takut, tatkala euphoria reformasi pecah pada bulan Mei 1998, betapa Jakarta sangat mencekam. Saya sempat berlari – lari dan mengungsi, kerjapun libur selama 10 hari, betul – betul kejadian yang tak akan pernah hilang dari benak. Krisis moneterpun menjadi sebuah mimpi buruk, akan tetapi lagi – lagi saya harus dan patut bersyukur bahwa saya tak mengalami imbasnya dengan sebuah keputusan Pemutusan Hubungan Kerja ( PHK ), saya masih bisa bekerja, masih bisa melanjutkan mimpi menjadi orang sukses di Jakarta, walaupun pada akhirnya saya harus kembali ke satu muara yaitu kampung halaman tercinta.

Meski tak sempat  merasakan asyiknya bermoda transportasi Busway dan tak mengalami asyiknya bermimpi menikmati monorail, setidaknya saya pernah asyik – asyik saja selama tinggal di Jakarta.  Saya sebagai warga negara Indonesia yang pernah tinggal di Jakarta berharap,  semoga dibawah kendali Bapak Jokowi dan Bapak Ahok Jakarta semakin bebenah diri, memperbaiki citra sebagai negara yang memang patut di hargai.

” SELAMAT ULANG TAHUN JAKARTA ! “

Iklan

21 pemikiran pada “SELAMAT ULANG TAHUN JAKARTA !

  1. Mbak LIes..mana fotonyaaaa..??? hehehe..ngga disana ngga disini keukeuh nanya foto 😀

    aahh saya mah ngga boleh jauh2 dr rumah, eehh sekalinya jauh? jauuuuuuuuuuuh banget.

    • Pas di Jakarta belum pake hijab, malu ah…hihihihi

      Ah Teteh jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhh!!! bisa kubayangkan gimana perjuangan seorang Ibu muda di negara orang….huiibaaattt deh Teteh…jempol 4 maju semuwaaa buatmu Teh 🙂

  2. Masih lbh unggul dariku mbak, aku cuman numpang hidup di Jakarta 3 tahunan…Awalnya ya karena disuruh kerja disawah ga bisa, jadi terpaksa merantau ke Jakartee…hehe

    • qiqiqiiqiqiqiqi…Mama Hilsya…kita 11 – 12 deh ! Tapi namanya juga adat busana daerah, tetep aja cantik kan ?

      Yap! di pinggiran lebih menenangkan ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s