AMAL


” Menunda amal karena menunggu waktu yang luang termasuk tanda kebodohan ”

( Ibnu Athaillah-90 )

“Aku luru sangu mati. Aku wis tuwa, wis meh mangsane tekan pati. Saiki kari ngibadah, njaluk pangampunan karo ngake ngakei ngamal” ( Saya mencari bekal menghadapi kematian. Saya sudah tua, hampir mendekati ajal. Sekarang tinggal banyak beribadah, minta pengampunan dan memperbanyak amal )

Kalimat di atas adalah umum di jawab oleh para lanjut usia yang selalu khusuk beribadah, entah di mesjid,Β  mushala dekat rumah atau seseorang yang kutemui di jalan saat mereka berangkat ke suatu pengajian.

Sering jawaban sangat bersahaja mereka, mampu menamparku sangat keras, mereka yang nota bene sudah ‘tak berdaya’ secara raga maupun materi, tapi semangat ibadah dan beramalnya patut di patri dalam sanubari.

Beberapa contoh yang tidak jauh dari rumahku, sebut saja Mbah Mi, seorang penjual penganan khas desa kami, Beliau tinggal sebatang kara, kebetulan rumahnya cuma beberapa jengkal di depan rumah kami. Tak ada yang bisa kuucapkan selain selalu terharu,Β  bila suatu ketika aku berkesempatan ngobrol dengan Beliau..

” Alhamdulillah, Mbak Lis wau enjang dagangan kulo telas, saget kagem tindak pengaosan kaliyan nglebetaken arto amal, wonten mesjid “

( Alhamdulillah, Mbak Lis, tadi dagangan saya habis, bisa buat pergi pengajian, serta bisa memasukan uang amal di mesjid )

Jdderrrr…dalam hatiku, karena aku tahu pasti, berapa rupiah yang Beliau bawa sepulang dari pasar, tak lebih dari rp. 20.000,-.Padahal ongkos untuk datang ke pengajian yang di maksud itu, harus naik angkot yang ongkosnya naik beberapa persen seiring kenaikan BBM kemarin.

Coba bandingkan dengan diriku yang masih betah jadi Emak galau, bila mempunyai sejumlah uang yang sama, tapi sibuk mikir mau di kemanakan uang Rp. 20.000,- itu, yang pasti lebih cepat lari ke konter pulsa ato ketak ketik kipet hape untuk beli pulsa 😦

Di atas baru satu contoh yang dekat dengan diriku, di kesempatan lain aku berjumpa dengan seorang kakek yang selalu ada di setiap rumah yang sedang tertimpa musibah dengan meninggalnya salah satu sanak keluarga, BeliauΒ  bernama Mbah Zakaria, juga hidup sebatang kara, tanpa mempunyai rumah tinggal. BeliauΒ  hidup dari masjid ke masjid, untuk membersihkanΒ  mesjid yang disinggahi,Β  tanpa punya tujuan apapun, selain berbuat baik selagi masih di beri umur untuk kepentingan umat yang beribadah di sana.

Suatu ketika, pas Bapak mertuaku meninggal, kesempatanku berbincang pada Beliau, kenapa dan mengapa Beliau melakukan hal tersebut. Jawabanya tak jauh dengan tulisan di awal postingan ini. Beliau mengumpulkan bekal amal untuk mempersiapkan hari, jika suatu saat kelak di panggil olehNya.

Mbah Zakaria

Mbah Zakaria

Lalu, aku ? Meski ‘alarm’ nurani berdering sangat keras untuk menyegerakan berbuat amal kebaikan, tetep aja ‘setan’ kuping pura – pura tak mendengar. Sok masih muda, sok tau usia masih panjang, padahal usia tetap mutlak rahasia Sang Khalik.

Sahabat blogger, adakah yang masih sama seperti diriku itu ? Yuk, mumpung masih di beri kesempatan umur, kita mulai dari hal terkecil untuk tidak lagi menunda – nunda sebuah kebaikan, segera menabung amal, buat bekal kita kelak. πŸ™‚

Iklan

38 pemikiran pada “AMAL

  1. Hix hix hiiiixxxxx tertohok!
    Jadi keinget ibu dirumah yg penglihatannya mulai berkurang karena Gloukoma tapi tetap semangat tadarus Al Qur’an, sedangkan aku yg masih sehat semangatnya kembang kempis 😦

  2. Mak, trims sudah mengingatkan kembali. Saat baru habis baca hal2 spt ini, niat hati begitu kuat utk kembali ‘menyiapkan’ diri, namun ga lama kemudian, lupa lagi. Hiks… Plak! Trims again, Mak. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s