SALON – SALON THAILAND BUKANLAH SEBUAH ANCAMAN


credit

Terus terang keikut sertaan saya dalam lomba #10daysforASEAN ini adalah hal yang paling nekad yang pernah saya  lakukan. Selain bluurrr tentang pengetahuan ke ASEAN an, juga kadang saya agak – agak ‘ telmi ‘, untuk menulis hal – hal yang serius gini. But, demi memecut semangat menulis yang sedang drop se drop dropnya, nekad saja daftar ke Mbak Ani Berta, mbak admin cantik dari Asean Blogger. Dan, yup langsung direspon balik.  Semangat !

Tadi pagi yang biasanya malas buka twittter, mendadak rajin bolak – balik mencet ‘burung biru’ di keypad hape, sekedar intip  tema tulisan  untuk hari pertama ini, apa sih ? Susah apa enggak. Rada – rada stress juga, secara aku pengetahuanya ‘cetek’ gitu. Dan….weeeeewww…belum – belum keringat di dahi sudah sejagung – jagung demi membaca tema hari ini : BAGAIMANA KALAU DI SEKITAR PERUMAHAN KAMU BANYAK BERDIRI SALON – SALON  THAILAND YANG PROFESIONAL DAN MEMPUNYAI SERTIFIKAT TINGKAT INTERNATIONAL APAKAH AKAN MENGGESER SALON LOKAL ? APA ANALISISMU ?

Hadeeuhhh…meski saya ini wanita tulen, tapi aseli saya juga buta salon, ke salon paling banter cuma motong rambut, itupun di lakukan paling banyak setahun sekali. Hehehe. Salon identik dengan  tempat merawat tubuh, wajah juga kesehatan, baik pria maupun wanita. Siapa sih yang tidak ingin dilihart keren penampilanya, saya rasa pasti semua mau. Merawat tubuh berarti juga menghargai diri sendiri yang akan mempertebal rasa percaya diri yang akan membantu kita menjadi seseorang yang lebih baik lebih bahagia dan menyenangkan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Seperti beberapa waktu lalu, ketika saya menghadiri reuni SD tepat di hari ke – 3  Idul Fitri kemarin, teman kecilku yang dulu dekil dan tentu saja masih ingusan, kini  menjelma menjadi wanita metropolis nan jelita penuh percaya diri dan tampak bahagia. Dan ketika dengan kepo dan noraknya saya nekad bertanya, rahasianya apa kok jadi secemerlang sekarang. Saya Cuma bisa melongo ketika mendengar jawaban yang disertai senyum manis setengah berbisik : Perawatan salon, Bu….tapi bukan yang lokal…perawatan dari …bla..bla..bla .Ooooo gitu ya ? Pantes …teriak batin saya.

Thai salon spa

Trus, kenapa teman saya memilih salon yang bukan lokal ya ? Padahal saya rasa salon lokal dan non lokal  sama bagusnya sama kerennya. Lagi – lagi teman cantik saya  bilang, kalau salon langgananya itu bersertifikat internasional. Wah ! Lalu apa kabarnya salon dengan kita ini ? Tidak bersertifikat internasional ? Apakah nanti – nantinya salon kita bakalan tergusur dengan eksistensi salon – salon dari Thailand yang terkenal itu ? Mudah – mudahan jangan sampai ya..Harapanya sih, malah bisa bergandengan tangan bersinergi untuk memajukan perekonomian bangsa.

Peningkatan persaingan ekonomi di kawasan ASEAN pastilah terjadi, tetapi semua itu dapat di atasi jika pemerintah mendukung sepenuhnya dunia usaha apapun baik  usaha industri maupun jasa  untuk memanfaatkan berbagai peluang yang ada. Dengan dukungan penduduk Indonesia yang besar, wilayah dan sumber daya alam yang ada, tentulah sebagai modal awal yang baik  bagi pemerintah untuk menjawab tantangan global ini.

Peningkatan mutu sumber daya manusia, produk maupun jasa tentu amat diperlukan untuk menghadapi semua tantangan ini, untuk itu alangkah bijaksananya jika pemerintah terus berkesinambungan untuk terus mendukung standarisasi tingkat internasional. Pemberian kemudahan birokrasi, pelatihan ketrampilan yang memadai  akan memperkuat menghadapi persaingan ekonomi di masa mendatang, sebagai modal dasar menuju ASEAN Economy Community.

Salon Martha Tilaar, salon lokal yang keren

Jadi, menurut saya pribadi merasa yakin, apabila jika yang tertulis di atas bisa dilaksanakan dengan baik dan semestinya, maka tak perlu risau jika tiba – tiba bermunculan salon – salon Thailand  di sekitar kita, itu bukan sebuah ancaman, karena  kita telah siap dengan semua itu. Bersaing secara sehat menuju Pasar Bebas ASEAN.

Iklan

19 pemikiran pada “SALON – SALON THAILAND BUKANLAH SEBUAH ANCAMAN

  1. #Wanita tulen yang ngga tahu salon-salonan
    Jiahhahaha…
    Yakkkammpuunn kok sama sihhh 😀

    Walaupun modal nekat senggaknya kan bermanfaat, jadi lebih tahu apa itu Asean Community 😉

    Semangattt..semangattt

  2. Eeuuuh, kalo membandingkan salon2, jelas diriku tak tahu. Tapi kalo soal “lokal”, kayaknya mungkin bisa jadi perbandingannya mirip warung makan lah. Td malem kebetulan aku makan di salah satu warung Mie Jawa. Dan selama si ibu penjualnya masak, diriku yang takjub krn dia menyapa dan ngobrol dengan semua pelanggannya (termasuk aku yg baru sekali). Apalagi yg sudah beberapa kali mampir, beuuuuuh… udah berasa kayak di halaman tetangga ngobrolnya. Hahaha.
    Jd, menurutku, salon lokal pun bisa begitu deh. Justru mungkin di situ nilai tambahnya? Krn beberapa kali aku ke salon yg biasa2 pasti diajakin ngobrol ngalor-ngidul. Tapi begitu masuk ke salon yg dengan embel2 spa, aku dicuekin, jd lebih baik tiduuuur. Sori komennya kbyakan. :p

  3. Enakan disalon konvensional mbk, cuci krimbat blow cuma 35 ribu. Kalo salon di mol cuci beda blow beda vitamin beda, jatuh2nya mahal harganya. Pernah dulu ditanya abis krimbat, rambutnya mau dikeringin mbak? Yaiya laaaaah masa keluar salon basah kuyup kayak abis kecebur, xixixixi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s