MAMAK


Akhirnya Bapak menemukan cara  unik,  lauk  yang berupa tahu atau tempe di masukan ke dalam minyak yang belum panas. Bagaimana hasilnya ?……

***

Masa kecil adalah masa – masa  paling indah dan menyenangkan, apalagi memasuki bulan Ramadhan, acapkali terlintas kenangan – kenangan indah semasa kecil selama belajar berpuasa. Ada kenangan yang tak mungkin kulupa sepanjang hidupku. Mungkin kenangan ini termasuk kenangan  ‘ ajaib ‘ yang tak semua anak mengalami sepertiku.

Semasa kecil aku dilarang melaksanakan ibadah puasa oleh Ibuku atau aku menyebutnya Mamak. Ya, Mamak akan marah besar bila ketahuan aku berpuasa. Apa pasal ? Menurut Beliau aku masih terlalu kecil untuk berpuasa, padahal waktu itu aku sudah berumur 8 tahun. Sering Mamak bertengkar hebat dengan Bapak, gara – gara aku, karena Beliau berdua berbeda pendapat. Bapak adalah salah satu cucu seorang Kyai di desa, maka selalu bersikeras agar aku berlatih puasa dari kecil.

Sedang Mamakku yang sedari kecil sudah yatim piatu, di asuh oleh salah seorang kerabat dekat, yang di kemudian hari, akrab aku panggil Mbah Uti dan Mbah Kung yang memilih sebuah kepercayaan Jawa sebagai keyakinan hidupnya, bukan agama Islam seperti keluarga Bapakku. Jadi bisa dimaklumi bukan, kalau Mamak mempunyai keyakinan yang berbeda dengan Bapak.  Tidak memperbolehkan aku puasa sejak kecil selain rasa sayang yang amat sangat kepadaku, juga karena pemahaman agama yang masih kurang.

Bertahun – tahun aku merasakan hal – hal yang cukup menggelikan, menyesakkan dan terkadang mengharukan melalui bulan Ramadhan di waktu kecil. Di rumah yang menjalankan puasa cuma Bapak dan Aku, karena adik – adikku masih balita. Sering sekali kami menikmati makan sahur dengan rasa ‘ nano – nano ‘.  Selain aku belum bisa memasak, kami juga sering menghindari perselisihan paham dengan Mamak dengan tidak melakukan hal – hal yang menyebabkan Mamak terbangun di waktu kami makan sahur.

Bangun dengan hati – hati dan mengendap – endap ke dapur adalah suatu hal biasa bagi kami berdua. Dan yang paling menggelikan adalah, ketika harus mencari cara menggoreng lauk – pauk agar tidak menimbulkan bunyi berisik. Akhirnya Bapak menemukan cara  unik,  lauk  yang berupa tahu atau tempe di masukan ke dalam  minyak yang belum panas. Bagaimana hasilnya ? Bisa di bayangkan bukan ? Apalagi ketika aku ingin sekali  makan sahur dengan lauk telur dadar. Duh, nelangsanya !

Berkat kesabaran Bapak, seiring waktu berjalan, Mamak tak lagi seperti dulu, meski tetap sosok sederhana dengan pola pikir terbatas, namun  pemahaman tentang agama  meningkat cukup cepat karena  berkemauan keras  untuk belajar agama Islam lebih dalam,  akhirnya Mamak menyadari akan kekeliruan pemahaman akan rasa sayang kepada anak – anaknya. Bahkan berkat Mamakku pula, Mbah Uti dan Mbah Kung pun berpindah dari keyakinanya menjadi pemeluk agama Islam, hingga keduanya menghadap Sang Khalik.

Kini Mamak dan Bapak masih sehat, dan telah mempunyai cucu delapan orang, tentu sudah jadi lain ceritanya  di saat bulan Ramadhan seperti ini. Bila kita berkumpul di rumah Beliau saat di adakan acara buka bersama keluarga, pasti Mamaklah yang pertama kali mengecek, siapa cucunya yang hari itu tidak puasa, maka akan di kenakan hukuman,  tidak mendapat semangkuk kolak buatan Beliau yang sangat enak dan di gemari oleh semua anak, menantu dan cucu – cucunya.

Artikel ini kusertakan dalam Lomba Sayembara Gado – gado Majalah Femina Juli 2013 dengan thema : Ramadhan dan terpilih sebagai artikel pemenang ke-2

Iklan

31 pemikiran pada “MAMAK

  1. Ini sebuah kenangan yang manis…
    ada berbagai aspek bisa dilihat dari postingan ini …

    rasanya pantas menjadi yang terbaik dalam Sayembara Gado-gado tersebut

    Salam saya

  2. dari awal aku baca pelan2,,enak mba kyk cerpen,,ehh liat tulisan paling bawah,,ternyata artikel ha ha kok bukan aku sih jurinya,,tak jadiin juara 1 malahan,,bagus mba,,bagus,,sayang jempolku cm 2, (4 ma kaki),,selamat ya mba 2 jempol deh 🙂

    • Ambil helm buat nutupin muka ah !…hahaha,,,tersapu – sapu aku, Bund… 🙂

      Tar tak bilang Pemred Femina ya,,,biar Bu guru yg satu ini jadi juri di sayembara taun depan… 🙂

  3. benar-benar gado-gado spesial Jeng Lies, ada membangun toleransi melalui kesabaran, ada kehangatan keluarga… ndherek bingah Jeng dan numpang bangga, saat dimuat ikutan nyeletuk …saya kenal lho dengan Jeng Lies penulisnya… Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s