SEMUA BERMUARA DI HATI


” Gegamaning wong akrami, dudu bandha dudu rupa

Amung ati pawitane, luput pisan kena pisan

Yen gampang luwih gampang, yen angel , angel kalangkung

Tan kena tinumbas arta… ”

Syair di atas adalah lirik lagu Jawa smaradhana, yang dulu sering didengung – dengungkan oleh simbah kakung  saya, ketika saya mulai dewasa dan sudah pantas menikah. Terjemahan bebasnya kurang lebihnya begini, senjatanya orang menikah itu bukan harta maupun rupa, namun hati, salah sekali akan salah selamanya, jika mudah pasti lebih mudah, tapi jika susah pasti lebih susah, tak terbeli dengan uang.

Intinya, dalam pernikahan yang utama adalah memang ketulusan hati dalam memilih dan menerima seorang yang telah di takdirkan olehNya menjadi pasangan hidup kita. Pun ketika pada akhirnya saya menemukan jodoh, kembali syair di atas kucermati maknanya berulang kali, dan memang  yang di dengungkan simbah kakung saya itu, benar adanya. Saya memilih hatinya dalam  menjalani hidup bersama di sisa usia saya.

Pernikahan memang bukanlah suatu tujuan akhir dari sebuah hubungan kasih sayang antara dua manusia, namun justru menjadi awal dari kehidupan baru. Di usia pernikahan kami  yang menginjak 14 tahun ini, bukanlah sebuah perjalanan kehidupan pernikahan yang mulus, tanpa konflik. Tentu saja dengan latar belakang berbeda, baik pendidikan, sosial, maupun usia yang  terkadang sebagai pemicu utama bagi riak – riak kecil sepanjang perjalanan kami. Belum lagi di tambah dengan  hal – hal ‘ mendadak ‘ yang datang seperti angin, dan menghadang laju biduk kami, baik angin sepoi – sepoi basah maupun angin kencang dari lautan lepas, yang menyebabkan biduk kami sedikit oleng.

Pernah di suatu masa, ketika krisis ekonomi melanda negeri ini dan situasi sangat tidak bersahabat dengan kami, karena   suami harus mengalami PHK dari sebuah perusahaan farmasi di mana bertahun – tahun jadi tempat bernaung selama ini.  Pada waktu itu saya baru saja  melahirkan anak yang pertama, sungguh satu mimpi buruk di awal – awal pernikahan kami.

Beruntungnya saya tak mengalami apa yang menimpa suami, saya masih bekerja, cuma si kecil yang masih bayi merah itu, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tinggal di Ibu kota dengan biaya hidup yang cukup  tinggi, membuat kami sedikit pontang – panting dengan ketimpangan ekonomi ini. Belum lagi kami membutuhkan ART yang menjaga bayi kami, selama saya tinggal bekerja. Tentu pengeluaran untuk itu tidak sedikit, sementara suami mencari pekerjaan baru juga tidak mudah.

Di puncak keputus asa an, akhirnya kami memilih  bayi kami di asuh nenek kakeknya di kampung  dan beberapa waktu kemudian, suami juga menyusul pulang kampung, sementara saya tetap bekerja di Jakarta. Sedih ? Banget ! Ya, kami bertiga sempat hidup terpencar selama hampir 1,5 tahun, bayi kami di rumah orang tua saya, sementara suami pulang ke rumah orang tuanya, sambil menunggui Beliau yang sudah lanjut usia. Kamipun ‘pisah’ sementara. Terdengarnya cukup aneh ya ? Tapi itulah yang kami alami. 

Hidup dalam ikatan pernikahan namun menjalani hidup sendiri – sendiri dan berjauhan dengan rentang waktu cukup lama, tentu saja sangat tidak mengenakan. Di penghujung tahun 2002, sayapun membuat keputusan cukup penting, saya resign dari tempat kerja, meski proses  untuk resign itu berjalan  cukup alot, sampai tiga kali saya membuat surat pengunduran diri yang pada akhirnya di surat yang ketiga berhasil  ditanda tangani oleh Pimpinan HRD, yang luruh hatinya mendengar alasan kenapa saya mengundurkan diri. Ya, demi keluarga,  saya mengorbankan apa yang selama ini telah saya raih dan cita – citakan.

Bukan hal mudah pula untuk menjalani babak baru dalam kehidupan berikutnya ini, dengan suasana dan ritme yang berbeda. Sayapun berusaha sekuat hati untuk menjalani peran baru sebagai ibu dan istri yang tidak lagi bekerja. Hidup di desa dengan penuh kesederhanaan,  sepenuhnya sangat saya syukuri, karena pada akhirnya kami berkumpul bersama buah hati dan suami yang selalu di sisi saya. Itulah hal yang paling berharga buat saya. Kini  kami telah di berkahi dua buah hati yang selalu menjadi cahaya terang dalam kehidupan kami.

Dan hidup di desa  pulalah  yang mengajarkan saya banyak hal tentang kesederhanaan, kesabaran, keikhlasan, kerendah hatian dan makna kehidupan yang  sesungguhnya buat saya. Meski perbedaan  – perbedaan itu tetap ada,  namun kami berdua senantiasa tetap  berusaha mensejajarkan diri dan menyamakan langkah agar tetap senada dan seirama dalam menjalankan  kemudi biduk pernikahan kami. Tak mudah memang, namun sekali lagi mengingat syair lagu di atas, apapun masalah yang kita hadapi  memang harus  bermuara  di ‘hati’ , Insya Allah biduk akan sampai dengan tujuan akhir hidup kita.

 

Inilah kami ! 🙂

 

   ” Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine

 

Buat Mbak Uniek dan Kangmas tercinta, kami ucapkan selamat anniversary yang ke 10, semoga  Allah  SWT senantiasa memberikah rahmat, berkah, taufik serta hidayah dan segala kebaikanNya  dalam kehidupan  selanjutnya. Amin.

 

Iklan

45 pemikiran pada “SEMUA BERMUARA DI HATI

  1. Aja turu sore kaki, ana dewa nganglang jagad
    Nyangking bokor kencanane, isine donga tetulak
    Sandhang kelawan pangan, yaiku bageyanipun
    wong welek sabar narima…
    *gedumbreng…

    Jadi inget mbah buyut, bu…

    • Leres Bund…buat dirimu yg masih muda…pokoknya keep calm dgn apa yg nanti semua di hadapi…pernikahan itu tidak mudah, namun juga bukan hal yg sulit bila kita tetap pada niat semula… 🙂

  2. buk lies postingannya boleh saya share link di fb? saya kok terhanyut dengan “opening ceremonial” nya :). Pesan unutk yang berumahtangga nih..

  3. Pupuh Asmarandana yang adem sekaligus bikin semakin menunduk ya Jeng, pengin dengar nembangnya Jeng Lies ah….
    Amung ati pawitane…. dan semua ujian mampu dijalani sepasang hati bersamaNya.
    Sukses ngontesnya nggih Jeng. salam

  4. laaahhh, nggak bisa bayangin deh mba harus pisah gitu, bapaknya dimana emaknya kemana anaknya sama sapa 😉 Alhamdulillah semua sudah teratasi sekarang ya.
    Terima kasih untuk partisipasinya mbakyu, good luck 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s