DARI RUMAHLAH, JIWA PEMIMPIN KECIL ITU TERBENTUK


Saya masih ingat betul ketika pertama kali saya masuk sekolah Taman Kanak – Kanak beberapa puluh  tahun lalu, Mamak saya berpesan begini , “Nanti kalau sampai di sekolah, harus berani ya, salamin teman – teman barumu, dan ajaklah bermain “. Sampai di sekolah begitu turun dari boncengan sepeda  Bapak, segera sayapun melakukan seperti apa yang Mamak pesan,  karena  Bapak langsung berangkat menuju ke kantor yang berjarak 500 m dari sekolah saya.  Ternyata di hari pertama masuk sekolah itu, saya sukses mengajak beberapa teman untuk bermain perosotan bersama – sama. Saya tak ingat ada keberanian dari mana waktu itu, yang jelas ucapan Mamaklah yang selalu terngiang – ngiang dalam benak saya. Saya harus berani dan mandiri di sekolah,  karena Mamak dan Bapak mempunyai kesibukan masing – masing, sebagai Ibu rumah tangga dengan 4 orang anak, yang juga berjualan di pasar, sedangkan  Bapak adalah seorang Pegawai Negeri Sipil.

Mamak saya adalah sosok sederhana dengan pola hidup dan pikiran yang sederhana pula, namun  Beliau mengajari banyak hal tentang kemandirian dan keberanian buat saya. Sebagai  Sulung dengan tiga orang adik ( waktu itu ) dan  ke semuanya laki – laki, saya adalah sebagai pemimpin kecil dari mereka. Belum ada teori  – teori ala seminar parenting seperti  jaman sekarang, tetapi Mamak dengan naluri seorang Ibu telah banyak mencontohkan sikap dan perilaku sebagai seorang pemimpin sejati buat saya, seperti  misalnya pengalaman masa kecilku ini, 

1.        Berani bertindak  dan memutuskan.

Ketika Mamak dan Bapak tak ada di rumah, maka tugas utama saya adalah  menjaga dan melindungi ketiga adik – adik saya yang waktu itu masih balita, walau terkadang salah satu dari adik yang paling kecil  di bawa oleh Mamak ke pasar. Saya harus berani bertindak ketika adik ataupun saya sendiri berselisih paham dengan teman sepermainan. Jika memang saya atau adik – adik yang salah harus berani mengakuinya  dan meminta maaf.  Jika benarpun tak  harus menjadi besar hati.

Pernah suatu ketika pada saat  kami bermain di halaman rumah, tiba – tiba ada tamu yang mengaku sebagai utusan dari kantor Bapak , tetapi tak satupun dari kami mengenalnya, sayapun langsung memutuskan untuk tidak menerima apalagi mempersilahkan masuk ke dalam rumah kami. Dan setelah Bapak pulang kamipun bercerita perihal tamu tersebut, ternyata Bapak tak mengutus siapapun untuk datang ke rumah.

2.       Mengerjakan pekerjaan dengan disiplin dan penuh tanggung jawab.

Sebagai   bagian dari keluarga  TNI AD, maka didikan keras dan disiplin sudah menjadi menu wajib kami, tapi untuk tugas masing – masing anak ditentukan oleh Mamak. Kami berempat diberi tugas masing – masing sesuai dengan kemampuan kami, sebagai anak yang paling besar, saya di berikan tugas sedikit lebih banyak daripada tugas adik – adik. Tugas saya setelah bangun tidur, adalah membangunkan ketiga adik – adik, merapikan tempat tidur, menyapu lantai kemudian membantu Mamak di dapur menyiapkan sarapan pagi. Sedang adik – adik saya ada yang menyapu  halaman, menyemirkan sepatu Bapak, dan mengelap sepeda Bapak. Itu semua kami lakukan sampai kami dewasa dengan tugas yang disesuaikan dengan bertambahnya  umur kami.

3.       Melakukan hal – hal baik dalam kehidupan sehari hari.

          Sedari kecil kami di biasakan untuk berlaku sopan santun terhadap siapapun baik dengan teman sepermainan apalagi dengan orang yang lebih tua.

          Kami hidup dalam kesederhanaan,  perilaku berbagi telah di terapkan  kepada kami , seperti berbagi mainan, buku, kue ataupun lainya kepada saudara maupun kepada orang lain. Yang paling sering di lakukan Mamak adalah setiap bulan pada hari weton kelahiran kami ( kalender Jawa ) selalu membuat bancakan atau nasi tumpeng dengan lauk kuluban  ( sayuran yang direbus kemudian di beri bumbu urap kelapa ), tempe goreng, kerupuk dan telur rebus yang dipotong kecil – kecil, kemudian  di bagikan kepada teman –  teman  dan tetangga kami. Entahlah saat itu sayapun merasakan kegembiraan dan kebahagiaan masa kecil yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata – kata, rasanya senang berkumpul dan makan bersama dengan teman – teman walaupun dengan menu yang sangat sederhana .

          Bekerja sama dan saling bahu membahu dalam mengerjakan tugas rumah maupun sekolah adalah sudah merupakan kebiasaan kami.

          Mamak dan Bapak selalu memberikan kebebasan kami untuk  berpendapat atau memilih sesuatu yang sesuai dengan keinginan masing – masing anak. Beliau juga menghargai pendapat, pilihan atau hasil karya kami betapapun terkadang berlainanan dengan pendapat  Beliau berdua.

          Menabung adalah salah satu yang wajib  kami lakukan dari kecil, masih sangat berkesan ketika lulus sekolah TK, saya bisa membeli peralatan sekolah untuk melanjukan ke SD dengan uang  hasil menabung setiap hari sebesar Rp. 5,-. Pada waktu itu mata uang sekecil itu kurang lebihnya sama  dengan uang Rp. 1000,- pada jaman sekarang .

Keluarga saya yang sederhana :)

Keluarga saya yang sederhana 🙂

4.       Dibiasakan untuk mempunyai daya juang dan semangat tinggi.

Untuk memperoleh sesuatu, kami di biasakan untuk tidak memperoleh dengan cara yang  mudah. Segala sesuatunya harus memerlukan  proses,  berjuang dan sabar.  Seperti contohnya untuk membeli buku  cerita atau majalah kesukaan kami, kami harus rela menyisihkan uang saku sekolah demi membeli barang atau kebutuhan kesukaan kami. Sering juga kami belajar berjualan  kecil – kecilan seperti menjual mainan yang sedang digemari pada saat itu, misalnya layang – layang, kelereng atau apapun yang bisa menghasilkan uang.  Dulu kami merasa kan sebagai suatu paksaan, namun kini kami baru tahu bahwa dengan jerih payah kita bisa menghargai sesuatu yang telah diperoleh dan selalu bersyukur dengan sebuah pencapaian dalam hal apapun.

5.       Memberi Motivasi

Selain memberi  nasehat buat kami, Mamak juga sering memberi kami motivasi, baik ketika kami melakukan kesalahan / kegagalan maupun ketika kami berhasil meraih prestasi  – prestasi kecil di sekolah maupun di rumah.  Pernah saya menangis sejadi – jadinya ketika mengalami kegagalan melanjutkan sekolah ke PTN ( Perguruan Tinggi Negeri )  maupun ketika gagal masuk sebagai CPNS ( Calon Pegawai Negeri Sipil ) maka Mamaklah yang  terus menerus membujuk saya untuk tidak berlarut – larut dalam kesedihan

6.       Jujur pada diri sendiri dan orang lain

 Mamak sering mengatakan, jadi anak harus jujur,  baik kepada diri sendiri maupun orang lain, kalau tidak jujur hidupnya nanti akan susah. Nasehat  yang sangat sederhana, namun maknanya cukup dalam. Setelah saya dewasa ternyata nasehat itu memang terbukti, di manapun kita berada kejujuran ternyata memang bekal  yang utama dalam menjalani hidup sehari – hari dalam segala aspek.

Menjadi pemimpin kecil kurasakan sejak TK ketika di tunjuk oleh Ibu Guru untuk memimpin menyanyi atau menari di depan kelas atau ketika ada suatu acara di sekolah. Pada saat duduk di bangku SD, meskipun tidak menjadi ketua kelas, namun sering  menjadi pemimpin kecil bagi kegiatan lainnya, seperti menjadi ketua pramuka siaga,  ketua kelompok lomba prakarya atau ketua belajar kelompok.

Menari saat TK ( paling kiri :) )

Menari saat TK ( paling kiri 🙂 )

Si Ketua Pramuka Siaga, berada paling depan :)

Si Ketua Pramuka Siaga, berada paling depan 🙂

Itulah beberapa  pengalaman masa kecil saya.  Kini saya juga telah menjadi seorang ibu dengan dua orang buah hati,  tapi saya tak menjadi seorang pemimpin besar seperti yang dicita – citakan oleh kedua orang tua, namun saya selalu bersyukur bahwa didikkan dari Mamak  sangat berguna ketika saya dipercaya sebagai pemimpin bagi tim kerja di kantor maupun sebagai  Ketua PKK bagi Ibu – ibu di sekitar tempat tinggal saya. Peran besar didikan dari Mamaklah yang membuat saya menjadi seseorang yang berani dan tegas dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang diembankan kepada saya.

Saya bersama tim kerja :)

Saya bersama tim kerja 🙂

Sebagai ketua PKK :)

Sebagai ketua PKK 🙂

Jaman memang sudah sangat berbeda , namun cara mengasuh dan mendidik anak tetap saya ambil  dari pengalaman masa kecil saya, yang kemudian  disesuaikan dengan keadaan masa sekarang.  Karena lingkungan dan keadaan sudah sangat jauh berbeda, maka yang  saya tekankan kepada anak – anak adalah  adalah pondasi agama yang kuat.  Agar  akhlak dan jiwanya tetap terjaga oleh segala pengaruh yang kini ada.

Sebagai ibu dari anak – anak generasi  internet, saya juga merasakan betapa anak – anak pada jaman sekarang bebannya jauh lebih berat di banding masa kecil saya. Pengaruh dari  banyak media maupun teknologi canggih yang ada sekarang , bisa jadi  faktor penentu bagi  masa depannya,  jika tak di sikapi oleh orang tua dengan bijak. Untuk itulah saya selalu memberi batasan – batasan yang cukup tegas mengenai hal ini. Ini tak berlaku hanya untuk anak – anak tetapi juga saya dan pasangan. Menggunakan waktu seefektif mungkin untuk mendampingi mereka belajar , mendengarkan apa kata mereka, bercerita untuk mereka, menemani menonton TV, menggunakan komputer atau gadget lainya.

Kebetulan saya juga bekerja penuh waktu, keberanian dan kemandirian juga saya tanamkan sejak dini. Alhamdulillah sifat – sifat berani dan mandiri telah tumbuh ketika mereka  masuk TK. Setelah sampai sekolah dan bertemu Ibu gurunya, dengan cepat mereka  bisa berbaur dengan teman – temannya . Sayapun berangkat bekerja dengan hati  tenang.  Bahkan ketika si sulung  lulus TK, saya tak bisa mendampingi dan menyaksikan dia pentas menarikan beberapa buah tarian, di karenakan saya sakit dan sedang hamil besar. Diapun tetap semangat dan tak kecil hati, meski Ibunya tak bisa hadir. Mudah – mudahan jiwa dan semangatnya tetap terjaga sampai dewasa nanti.

Sulungku ketika mempersiapkan diri mengikuti lomba menari :)

Sulungku ketika mempersiapkan diri mengikuti lomba menari 🙂

Harapan  saya,   si sulung ALIFA AULIA HANIF  ( kini 13 tahun )  dan adiknya MUHAMMAD DZIKRA RAIHANSYAH ( kini 7 tahun ),  keduanya bisa menjadi pemimpin kecil dan calon pemimpin besar bagi keluarga, teman, dan lingkungannya kelak.  Keduanya  bisa tumbuh laksana pohon,  tinggi menjulang, meski itu tidaklah  mudah,  karena menahan liuknya angin,  panasnya bara mentari, gemuruhnya petir. Mereka harus tetap kuat menghunjamkan akarnya di bumi, menahan gempita hujan yang mencoba merubuhkannya . Namun mereka senantiasa memberikan buah – buahan manis dan mengenyangkan. Memberikan naungan bagi burung – burung yang singgah di dahannya dan memberikan tempat berlindung dengan rindang daun – daunnya. Amin.

Pemimpin kecilku, bersiap berangkat ke sekolah

Pemimpin kecilku, bersiap berangkat ke sekolah

” Duhai Rabbku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengarkan doa. ” ( QS. Ali Imran [3]:38 )

Tulisan ini aku sertakan dalam lomba blog Nutrisi Untuk Bangsa

revisi posterblog writing competition new

Iklan

22 pemikiran pada “DARI RUMAHLAH, JIWA PEMIMPIN KECIL ITU TERBENTUK

  1. pas mbaca notifikasi dari email udah langsung nebak bunda ikutan Nutrisi untuk bangsa…aku juga pingin ikutan tapi nggak ada ide..
    semoga sukses yah mbak..btw setuju dengan yang diungkapkan mbak lies diatas 🙂

  2. Pemimpin besar tidak ditentukan seberapa banyak orang yang ia pimpin, kebesaran pemimpin selalu nampak dimanapun dia berperan. Semoga sukses ngontes-nya ya Mba Lis 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s