BERMAIN PERMAINAN TRADISIONAL ? SIAPA TAKUT !


Dunia anak adalah dunia bermain, beragam permainan dan alat bermain yang ada,  dari yang tradisional sampai dengan yang modern. Terkadang terbersit rasa bangga bila melihat si Kecil sudah mengenal dan jago bermain video games, play station ( PS ), ataupun game komputer /  gadget dengan lincah. Memang banyak hal positif dapat di ambil dari  permainan modern tersebut seperti melatih kemampuan motorik dan pengenalan teknologi terkini kepada anak. Namun tidak sedikit pula berdampak negatif.

Maka ada baiknya kalau kita mengenalkan beberapa permainan tradisional kepada si Kecil, karena ada banyak sekali  manfaat positif yang diperoleh saat memainkanya. Selain mereka menjadi anak yang sehat, aktif, kreatif dan ceria, permainan tradisional juga mengasah kemampuan otak, kemampuan membuat strategi, sikap mudah bersosialisasi, dan membangun EQ.

Memang dalam permainan tradisional, tak mungkin si Kecil akan tetap bersih dan rapi jali dalam bermain. Karena hampir semua permainan tradisional membutuhkan gerak yang menyebabkan berkeringat maupun aktifitas  – aktifitas yang dapat mengotori baju mereka. Namun sebagai Ibu yang cerdas tentu tak perlu khawatir bukan ? Banyak cara dan tips mencuci baju yang baik yang dapat di aplikasikan dalam perawatan baju si Kecil.

Lalu, apa saja sih, permainan tradisional yang sangat mengasyikan dan menyehatkan itu ?

1. Bermain Benteng.

Bermain benteng adalah permainan untuk melatih kekompakan, tidak ada aturan khusus dalam permainan ini, namun lebih banyak yang berpartisipasi akan lebih menarik dan asyik. Permainan di bagi dalam 2 kelompok, tiap kelompok harus memilih suatu benda yang bisa untuk di jadikan “Benteng”, misalnya batu, pohon, tiang rumah atau tiang jemuran ( hahaha..ini sih, pengalaman pribadi waktu saya kecil ). Tiap kelompok harus berusaha untuk menyentuh benteng dari lawanya, jika hal ini terjadi maka kelompok tersebut dinyatakan menang. Dengan bermain benteng, anak akan belajar bermusyawarah untuk mencapai mufakat sejak dini dengan mendengarkan dan juga memberi pendapat mereka ke dalam kelompok untuk menentukan taktik terbaik. Dalam permainan ini tiap kelompok diharapkan memiliki kekompakan yang menarik dan taktik sebelum mereka ” menyerang ”

2. Petak Umpet

Permainan yang sering saya lakukan di masa kecil adalah petak umpet, di mana satu orang berperan sebagai “kucing”  ( biasanya sebelumnya hom pi pa untuk menentukannya )  akan menutup matanya pada salah satu tempat yang dianggap sebagai benteng, sementara yang lain mencari tempat untuk bersembunyi. Setelah menghitung sampai jumlah tertentu,,….tuwagapatmanamjuhpanlanluh ! udah belooomm…udah..belooomm ( biasanya sih berhitungnya cepet, keceng dan gak sabar untuk membuka mata 🙂 ). Saat membuka matanya si  “kucing” harus mencari temanya, jika melihat temannya, si “kucing” harus menyebutkan kata “hong”.  Kalau petak umpet dengan aturan “hong” ini, jika sudah terkena “hong”, maka si anak tak bisa bermain lagi atau hanya melihat saja. Karena filosofi dari arti kata “hong” adalah “bertemu” atau bisa juga ” bertemu sang pencipta”, kata Kang Zaini, pendiri Komunitas Hong yang peduli melestarikan permainan tradisional.

Lain daerah lain pula tata cara bermainya, kalau di daerah saya tata cara permainannya begini, bila telah menemukan teman  yang bersembunyi, “kucing” harus cepat-cepat berlari ke benteng sambil menyebut nama teman yang ketahuan persembunyiannya. Begitu juga dengan anak yang ketahuan, karena bila berhasil lebih dulu menyentuh benteng, maka pada tahap selanjutnya dia tidak akan jaga ( menjadi “kucing” ). Anak lain yang bersembunyi dapat pula menyentuh benteng agar tidak jaga pada tahap selanjutnya, asalkan tidak ketahuan dengan pencari.

Setelah semua telah ketahuan persembunyiannya, maka “kucing” akan menutup matanya kembali pada benteng dan teman – temannya yang lain membentuk barisan di belakangnya. “Kucing”  akan menyebut salah satu nomor. Teman yang ada di urutan nomor yang disebut akan menjadi pihak yang kalah bila tadi dia tidak berhasil lebih dulu mencapai benteng. Sedangkan  teman pada urutan yang disebut ternyata adalah teman  yang berhasil mencapai benteng lebih dulu pada saat ketahuan tempat persembunyiannya, maka si “kucing” tetap dalam posisi kalah dan permainan dilanjutkan.

3. Galasin / Galah Asin

Umumnya dikenal dengan nama Gobag sodor, permainan ini biasanya dilakukan diluar dengan 3 atau 5 orang anak tiap kelompoknya, makin banyak makin menarik dan ramai, apalagi kalau permainan ini di lakukan pada saat bulan purnama,  suasana permainan menjadi lebih meriah. Cara bermainnya adalah jumlah anak – anak dibagi menjadi 2 tim untuk menentukan tim yang jaga dan tim penyerang.  Setelah menentukan tim anggota tim jaga harus menjaga di masing-masing garis yang telah ditentukan dan boleh bergerak sepanjang garis tersebut untuk menyentuh anggota tim lawan. Tim yang tidak berjaga berdiri di garis yang paling depan dan berusaha menerobos garis-garis tersebut dan tidak boleh sampai tersentuh oleh tim yang jaga.

Setelah berhasil menerobos garis paling akhir, mereka harus berusaha kembali ke tempat pertama mereka mulai. Bila berhasil, mereka akan mendapatkan satu nilai. Sedangkan bila ada anggota tim yang tersentuh berarti giliran berganti. Tim yang tersentuh akan bertugas untuk menjaga. Tim yang menang adalah yang mengumpulkan nilai paling banyak.

Permainan ini akan mengajarkan bagaimana berkoordinasi dengan teman timnya, belajar membuat taktik terbaik dalam melakukan pertahanan daerahnya, selain itu juga sangat baik untuk menjaga kondisi fisik anak agar selalu sehat.

4. Lompat Tali

Permainan lompat tali, diminati oleh anak – anak baik laki – laki dan perempuan, namun kebanyakan memang di  kinati oleh anak perempuan. Tali yang di gunakan adalah tali panjang yang terbuat dari gelang karet yang di sambung – sambung sedemikian rupa hingga penjadi tali panjang yang kuat. Permainan ini paling sedikit di mainkan oleh 3 anak, 2 orang anak memegang tali yang direntangkan pada masing – masing ujung ( kanan dan kiri ),  sedang 1 orang anak yang akan melakukan lompatan, penentuan yang melompat dan yang jaga dengan melakukan hompimpa.

Pada saat awal permainan ketinggan tali sebatas lutut, kemudian pinggang, pada saat sebatas ini, pelompat tidak boleh menyentuh tali, jika menyentuh harus gantian jaga. Selanjutnya sebatas dada, kuping, kepala, sejengkal dari kepala. 2 jengkal dari kepala dan sehasta di atas kepala, semua dilakukan boleh mengenai tali, dan harus bisa melompati tali, jika tidak bisa / terjerat tali  gantian jaga tali.

Ada dua macam permainan menggunakan tali ini, yang satunya adalah tali di pegang kanan kiri kemudian pemegang tali memutar tali  searah jarum jam bersamaan dengan pemegang tali di ujung lainnya, sedang anak lain yang tidak jaga melompat dari hitungan satu sampai seterusnya sesuai aturan permainan yang dibuat. Aturan permainannya pun hampir sama, jika salah satu yang tidak bisa melompat / terjerat tali, maka ganti sebagai penjaga tali.

Permainan ini juga menjaga kondisi fisik , juga melatih ketangkasan kaki untuk melompat.

5. Engklek / Sunda manda

Permainan anak – anak tradisional ini sangat populer di hampir seluruh wilayah Indonesia dengan sebutan yang berbeda – beda ada, engklek, sudah mandah, ingkling, jlong – jling, lempeng atau dampu. Permainan ini biasanya di mainkan oleh anak perempuan, namun banyak juga anak – anak laki – laki yang menyukai  permainan ini.

Cara bermain permainan ini adalah, menggunakan satu kaki untuk melompat di setiap petak – petak yang telah di gambar sebelumnya di tanah atau ubin.

Untuk bermain setiap anak menggunakan ‘gacuk’ yang berupa pecahan genting atau semacamnya untuk di lempar ke petak, petak yang ada ‘gacuk’nya tidak boleh di injak / dilompati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompati petak selanjutnya dengan satu kaki mengelilingi petak – petak yang ada.

Pemain yang telah menyelesaikan satu putaran permainan lebih dulu, berhak memilih petak yang di jadikan “sawah”, untuk selanjutnya “sawah” tersebut boleh diinjak dengan dua kaki oleh yang bersangkutan, sementara pemain lainya harus melewati “sawah” temannya. Peserta yang mempunyai “sawah” terbanyak adalah yang memenangkan permainan ini.

Selain yang saya sebut di atas, masih banyak permainan tradisional di Indonesia lainnya, banyak hal positif yang bisa di ambil dari permainan tradisional ini,  serta tentunya juga dapat mengenalkan beragam budaya dari seluruh pelosok tanah air kepada anak – anak.

Baju anak menjadi kotor bukan halangan untuk mengenalkan kekayaan khasanah budaya kita yang harus di lestarikan ini. Tak perlu khawatir  jika baju anak menjadi kotor penuh lumpur ataupun kotoran lainnya. Ada tips sederhana berikut ini untuk membuat baju anak menjadi bersih, cemerlang dan tahan lama ,

1. Jika baju si Kecil  terdapat noda lumpur atau tanah yang basah, jangan terburu – buru untuk memasukan ke dalam mesin cuci. Biarkan noda mengering terlebih dulu, bersihkan gumpalan kotoran yang sudah kering dan masukan ke mesin cuci.

2. Jika tidak terdapat noda basah, segeralah masukkan pakaian ke mesin cuci untuk menghindari noda menempel pada pakaian jika dibiarkan terlalu lama. Masukkan deterjen favorit dan mulailah mencuci.

3. Selalu ingat untuk mengikuti petunjuk yang disarankan label perawatan pakaian saat mencuci agar pakaian tahan lama.

Bagaimana ? Cukup sederhana dan mudah bukan ? Jadi tak usah takut mengajarkan dan membiarkan  anak  bermain berbagai macam  permainan tradisional, karena berani kotor itu baik !

 

 

Catatan :

Gambar saya pinjam dari berbagai sumber,

untuk itu saya mengucapkan banyak terimakasih.

Iklan

34 pemikiran pada “BERMAIN PERMAINAN TRADISIONAL ? SIAPA TAKUT !

  1. Ah, jadi ingat jaman SD. Anak-anakku juga tak perkenalkan sama permainan-permainan tradisional, buat penyeimbang, karena sebagai anak jaman sekarang, susah menjauhkan mereka sepenuhnya dari online games dan TV.

  2. Ping balik: Batu Berwarna | Belajar Kehidupan

  3. Mengasyikkan bermain dalam kelompok, sehat berlarian. Ayook Jeng mangga bisa koq kita mulai dari keluarga kita nanti anak tetangga akan gabung. Bundanya jadi supervisor.
    Salam

  4. Anakku yang terlahir “betawi” fasih menyanyikan lagu2 dolanan.

    Menurut saya, tanpa mengenalkan anak pada permainan tradisional, berarti kita mencabut mereka dari akar budaya.

  5. Ping balik: MEMBANGUN KARAKTER POSITIF DAN BAHAGIA DENGAN PERMAINAN TRADISIONAL | Lieshadie's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s