DENDANG PAGI DI BUMI PASUNDAN


Malam belum selesai dengan sempurna, ketika saya tiba di kaki gunung Tangkuban Perahu, hari Minggu lalu. Udara dingin menyeruak dan terasa masih menusuk kulit padahal  di lapisi cardigan yang cukup tebal :). Inilah kali ke dua saya menjejakkan kaki di bumi Pasundan. Lama sekali saya memimpikan perjalanan liburan seperti ini, Biasanya  cuma numpang lewat bila sedang melakukan perjalanan ke Ibukota.

Udara dingin dan kantuk tak tertahankan setelah menempuh perjalanan separuh malam, tak menyurutkan langkah untuk segera menyentuh air dan bebersih diri di tempat transit dengan pemandangan dini hari yang sangat pekat. Segelas kopi instan  cukup menghangatkan dan mencairkan kebekuan suasana itu. Sembari menunggu sarapan pagi, jalan – jalan di seputaran tempat transit, sungguh menyegarkan mata, samar – samar di atas tebing terlihat jajaran rumah – rumah kayu tempat rombongan touring sebuah merk mobil lama, melepaskan lelah. Kok, jadi pengin ikut touring bareng mereka ya..hahaha. Asyik banget di lihatnya.

Tak perlu membuang waktu, selesai sarapan pagi rombongan kamipun menuju lokasi wisata pertama, apalagi kalau bukan Pemandian Air Panas  Ciater. Air Panas Ciater yang berasal dari kawah aktif Gunung Tangkuban Perahu yang tak terlalu jauh dari lokasi, memang bermanfaat untuk berbagai terapi kesehatan. Hamparan kebun teh nan luas di kaki  pegunungan yang melingkupinya di sepanjang perjalanan, memanjakan mata untuk tetap terjaga dan tak beranjak dari kaca jendela.

Tak terasa sampailah kami di Ciater, masih terlalu pagi dan sepi. Aroma uap belerang segera menyergap, di tingkahi dendang suling khas bumi Pasundan, menambah  kental suasana pedesaan Sunda yang sejuk dan asri. Dan saya malah terbawa suasana alunan merdu,  mengingatkan pada pernikahan salah seorang sahabat yang asli Jawa Barat beberapa tahun lalu 🙂

Berendam yuukk...!!!

Berendam yuukk…!!!

Dan tak usah pake lama, sayapun menceburkan diri ke dalam  air hangat yang mengepul di depan mata, segar dan nyaman terasa di badan, tak heran jika semakin siang semakin banyak saja wisatawan yang datang ke sini untuk sekedar berwisata maupun sengaja untuk terapi kesehatan.

Sayangnya, jagoan kecil saya gak betah berlama – lama di sini, karena melihat papan petunjuk tertulis terapi ikan,  hotel & resort, kebun strawberry, sontak membuat si kecil menarik tangan ibunya mengajak ke tempat terapi ikan, sayang masih terlalu pagi, jadi petugas di sana belum datang, pas liat jam tangan, ternyata masih jam delapan kurang. Hehehehe. Akhirnya  kebun strawberry yang kami tuju, letaknya lumayan jauh dan terletak di luar lokasi, di depan Sari Ater Resort & Hotel

Karena harus keluar lokasi, maka tangan kami di stempel, agar nantinya bisa masuk lagi ke arena lokasi. Di kebun strawberrylah si kecilku ini justru menemukan keasyikan tersendiri. Selain baru pertama kali ini melihat pohon strawberry, ternyata dia suka sekali buah strawberry, berkali – kali hasil petikannya masuk ke mulut, tanpa di hitungnya . Lah, ibunya yang kebingungan karena musti bayar kan ? Satu ons yang berisi buah strawberry 6-7 buah di bandrol harga Rp. 8000,-. Memang agak mahal di banding dengan harga yang di jajakan di luar kebun, namun  buah yang baru di petik dan langsung di makan itu terasa manis sangat jauh berbeda bila kita beli yang sudah di kemas. 🙂

stempel biar bisa balik lagi ! :P

di stempel biar bisa balik lagi ! 😛

Metiknya jangan banyak - banyak ya Dek...

Metiknya jangan banyak – banyak ya Dek…

Hiks, hasil petikan Adek tinggal segini :(

Hiks, hasil petikan Adek tinggal segini 😦

Matahari sudah sampai sepenggalah, ketika rombongan kami meninggalkan kaki Gunung Tangkuban Perahu, perjalanan liburan  kami lanjukan ke Pasar Terapung ( Floating Market Lembang )  yang berlokasi di Jalan Raya Lembang atau di sekitaran Grand Hotel Lembang. Cerita komplitnya di postingan berikutnya ya…. 🙂

Iklan

17 pemikiran pada “DENDANG PAGI DI BUMI PASUNDAN

  1. Waaa … jeng Lies jalan-jalan rupanya …

    BTW … terapi ikan ? … ini asik nih … ikan tersebut menggigiti kulit mati kita … dan sekaligus (katanya) memperlancar aliran darah + merangsang syaraf-syaraf

    Salam saya

    • Jalan2 kilat Om… 🙂

      Iya si kecilku ini suka banget terapi ikan..kalo kmana – mana yang di cari terapi ikan, padahal pernah dia sampe berdarah di gigit ikan2 kecil2 tapi gak kapok…

      Betul sih, memang habis terapi itu kaki berasa enteng..meski awalnya ya..gitu deh..gak tahan di ‘cium2 ikan’ 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s