BERKELIT SAAT SULIT KARENA IRIT


Mencuri waktu di sela – sela bekerja dengan  blogwalking ke teman – teman satu komunitas itu selalu menimbulkan sensasi yang luar biasa bagi saya. Buka tutup beberapa tab itulah bagian dari sensasi itu. Dan biasanya jika ada teman blogger yang posting tentang Lomba Blog atau Giveaway, selalu berhenti di situ beberapa jenak dan mendadak menyalakan semangat saya untuk menulis dan posting sesuatu yang unik dengan tema yang telah di tentukan.🙂

Seperti beberapa hari lalu, yang biasanya saya jadi
silent reader di Blog Kaka Akin, jadi tertarik ikut berpartisipasi di GA yang di adakan oleh Kaka yang Pencinta Kenangan. Tema GA yang di ketengahkan sungguhlah menarik dan dekat dengan kita – kita, khususnya emak – emak rempong seperti saya.😀. Ya…Giveaway Irit tapi Bukan Pelit ! # Ah ini mah saya banget Kaka…:D

Terus apa dong cerita iritnya Mak ?
Ini adalah cara irit yang turun temurun dari Nenek ke Mamak saya, kemudian ke saya, yang pastinyanya nanti juga temurun ke anak cucu bahkan cicit saya🙂.

Jadi dulu waktu kami masih kecil – kecil, rumah Nenek ada di depan rumah kami, meski tiap tahun Nenek panen dua kali dari lahan sawah yang lumayan luas, namun gaya hidup ‘ irit  beras ‘di terapkan juga dalam memasak nasi.  Apalagi Bapak kami hanya sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan lima orang anak, tahu kan ya, yang dapat jaminan dari negara, cuma tiga anak, lalu yang dua ikut siapa dong ? Ikut Neneklah, kan dekat !😀

Bagaimana caranya ‘irit beras itu? Sebagai anak perempuan satu – satunya kebetulan sulung pula, setiap hari ada tugas menanak nasi, entah pagi atau sore hari, Mamak mengajari menanak nasi dengan 4 takaran beras yang terbuat kaleng susu. Setiap menanak sebanyak 4 takaran itu, selalu di ambil lagi satu atau dua genggam tangan untuk di taruh dalam wadah tersendiri ( bakul dari anyaman
bambu ). Di akhir bulan,  sebelum jatah beras dari kantor Bapak datang, beras hasil segenggam dua genggam terkumpul lumayan banyak dan sangat berguna untuk menyambung hidup kami, tanpa minta bantuan tambahan beras dari Nenek. Kalau ingat tentang hal ini, saya sadar betapa  Mamak sangat pintar mengatur kebutuhan beras buat kami sekeluarga kala itu, membesarkan lima orang anak, satu perempuan dan empat laki – laki, kebayangkan kan, banyaknya dan hebohnya saat makan.🙂

Di masa remaja saya yang ceriwis dan sok ingin tahu, pernah menanyakan kepada Nenek, kenapa harus melakukan seperti itu ? Nenekpun menjawab dengan penuh filosofis, bahwa jika memiliki rejeki sedikit atau banyak, harus disyukuri dan disisakan, agar rejeki selalu ada di setiap harinya. Dan ternyata ucapan Nenek saya benar dan terbukti nyata di kemudian hari setelah saya dewasa.

Nah, dari cara ‘ irit beras ‘ yang di ajarkan Mamak sedari kecil, ternyata di kemudian hari sangat berguna  ketika saya berumah tangga baru. Tinggal di rumah kontrakan di belantara ibukota, yang kadangkala juga  melewati masa ‘sulit’. Beras habis sebelum tanggal gajian tiba, pernah  kami rasakan, pernah pula merasakan  pengalaman seperti  yang kini terjadi, banjir mengepung ibukota, akses ke mana – mana susah, jangankan untuk membeli kebutuhan makanan, untuk bisa jalan ke tempat bekerja saja membutuhkan perjuangan tersendiri. Beruntung beras simpanan segenggam demi segenggam, yang saya kumpulkan tiap pagi mencukupi kebutuhan,  hingga banjir surut beberapa hari sesudahnya. Mungkin saya salah  satu orang yang bisa bernapas lega di antara ratusan atau bahkan ribuan warga lainnya bingung mencari kebutuhan bahan makanan pokok berupa beras.🙂

Beras hasil irit tiap hari :)

Beras hasil irit tiap hari🙂

Bicara soal irit beras tak berhenti sampai saya meninggalkan Ibukota, setelah tinggal di kampung halaman yang tentu dekat dengan sawah dan beras bisa mudah di dapat, tentu tak perlu risau lagi memikirkan ‘andai beras habis’ pada tanggung bulan. Segala kebutuhan – kebutuhan sederhana ala kampung  bisa terjangkau oleh saya. Namun gaya hidup irit tetap berlanjut hingga kini. Selain soal beras, sayur – mayur dan lauk pauk  untuk kebutuhan sehari – haripun tak lepas dari gaya irit ala saya.

Halaman depan, samping, dan belakang rumah saya berdayakan semaksimal mungkin, agar anggaran belanja bisa terjaga dengan aman. Tahu kan ya, segala kebutuhan sekarang ini makin membubung tinggi, belum lagi di tambah kebutuhan anak – anak untuk bersekolah. Maka sebagai emak – emak penganut gaya hidup irit, mesti cerdas  dong ya…🙂

Tanaman buah dan sayur di halaman rumah :)

Tanaman buah dan sayur di halaman rumah🙂



Contoh kecilnya : Di halaman  rumah selain di tanami tanaman bunga dan buah – buahan seperti jambu, pisang, mangga dan rambutan, ada deretan pohon sayur – sayuran yang saya tanam menggunakan kantong plastik bekas beras raskin ( pemberdayaan barang bekas pakai ).. Memang belum seberapa, tapi setidaknya saya tak perlu repot – repot mengeluarkan uang, ketika suatu saat ingin memasak balado terong,  karena terong, cabai dan tomat sudah tersedia di halaman. Pun ketika menginginkan sayur cah sawi yang segar di siang yang terik, tinggal memetik, di masak dan dompetpun aman bukan ?


Lele dan gurameh di kolam kecil dihalaman samping rumah

Lele dan gurameh di kolam kecil dihalaman samping rumah

Keperluan lauk pauk yang bergizi buat keluarga terutama ‘krucil – krucil’, saya tak perlu bersusah payah membeli ke pasar, karena halaman samping yang kebetulan agak lapang  kami buat kolam kecil untuk memelihara ikan  lele dan gurami. Jika memerlukan lauk pauk ikan tinggal mengambil dari kolam. Tinggal keinginan anak – anak mau di goreng atau di bakar, emaknya siap memasaknya, yang penting asal jangan di suruh ikut ‘nyerok’ ikan dari kolamnya dan membersihkan sisiknya. Hahahaha….Pokoknya terima bersih ikannya, saya siap memasak dengan model apapun.:)

Gak tega sebenarnya kalo di bikin ayam goreng kremes :D

Gak tega sebenarnya kalo di bikin ayam goreng kremes ato opor ayam kesukaan keluarga😀



O, ya kami juga memelihara beberapa ekor ayam kampung, awalnya cuma untuk ‘pembuangan’ nasi, jika pada saat – saat tertentu kami mempunyai nasi yang lumayan banyak, karena banyak yang mengadakan hajatan. Terkadang nasi menjadi mubasir karenanya, untuk itulah ayam – ayam peliharaan kami sebagai ‘penadah’ nasi – nasi tersebut. Nasi tak jadi mubasir karena ayam – ayam kami gemuk – gemuk dan siap menjadi ayam goreng pula. Selain itu telurnya bisa di andalkan kandungan gizinya, karena  lebih alami dan rasanyapun lebih enak dari telur ayam negri.

Hemat kertas berarti ikut melestarikan lingkungan :)

Hemat kertas berarti ikut melestarikan lingkungan🙂

Ah, ngomong soal irit memang tak ada habisnya, dari soal keperluan dapur sampai bedak pupur, karena itu dekat dengan keseharian saya. Pun ketika beraktifitas di kantor, selain memecut diri,  juga mengajak rekan – rekan kerja untuk bersikap sama dengan saya. Sama – sama bergaya hidup irit dalam penggunaan apapun di kantor baik listrik ataupun ATK. Langkah paling nyata yang saya lakukan adalah penggunaan kertas bekas pakai,  yang pada bagian sebaliknya masih kosong, untuk keperluan mencetak data – data untuk keperluan intern, kecuali jika mencetak surat – surat formal baru menggunakan kertas yang baru.

Irit memang bukan berarti pelit, tetapi sikap dan gaya hidup hemat yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari – hari yang harus dipupuk sejak dini. Sedikit demi sedikit  akan menjadi besar manfaatnya dan  akan  kita rasakan saat – saat  mengalami masa sulit. So, yuk kita mulai hidup irit dari sekarang !🙂

“Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin”

51 thoughts on “BERKELIT SAAT SULIT KARENA IRIT

  1. Ah, aku jadi ingat rumah orang tua di jaman aku kecil mba, persiiiss itu kaya rumah Mba Lies. Aneka sayuran ada, terong, pare, lombok rawit & lombok abang, jahe-kunir-kencur,kunci ada, blum lagi pohon pisang yg selain dimakan buahnya juga diberdayakan daunnya utk pepes, jantung dan bonggolnya utk dimasak. Belum lagi ayam, bebek, menthok dan lele yang dibudidayakan suwargai bapak, sungguh ngangenin.

    Di kantor aku juga irit kertas lho mba, sama persis kayak Mba Lies. Bahkan untuk fax pun aku pake kertas bekas krn faxnya bukan yg model thermal itu. Ngirit dan ramah lingkungan ya mba😉

    • Iya Mbak Uniek, rumahku kebetulan di desa jadi halaman lumayan luas buat diberdayakan…tapi jikapun tinggal di kota bisa juga kok menanam tanaman pake sistim tabulampot dan polybag…malah keren kan ?

      Ahahaha iya kalo untuk keperluan fax bisa juga diterapkan ya, kcuali yang model thermal…untuk keperluan fotocopy juga pake kertas bekas Mbak…toss deh kita !🙂

  2. Filosofinya dalem banget Mba Lies untuk beras ituuh. Subhanallah, terharu bener bacanya. Dari jaman dulu financial planning udah dilakukan ya melalui takaran beras. hehehe.
    Btw kalo soal taneman di halaman sih seneng banget makannya kalo pas berbuah. Eh kalo ternak sendiri bener-bener gak tega saya Mba makannya. Seriiiing banget bapak potong ayam piaraan dan saya jadi ga mau makan daging berhari-hari. Huhuhuhu…

    Soal kertas di kantor yang sekarang mah gak bisa sama sekaliiii. Dilarang sama aturan internal perusahaan. Huehehehe

    Irit memang bukan pelit Mba. Beda banget!😀

    • Betul Dan, sayapun merasakan hal itu, apalgi pas mengalami masa2 sulit kehidupan filosofi itu tepat bangat….

      Financial planning,tradisional ala Nenek saya memang joss…gak kalah sama banker masa kini ya Dan…😀

      Bener emang gak tega, kalo ayam peliharaan di goreng….dulu semasa kecil selain gak bisa makan ayamnya, aku bisa menangis seharian krn ayamnya di sembelih.

      Kebijakam bank memang sangat resmi ya Dan, jadi ya manut waelah soal penggunaan ATK, tapi tetep bisa di irit kan ya…kalo bolak balik salah print pasti, bagian pengadaan ada yg melotot juga kan ya ?😀

      • Bagian pengadaan tutup mata mba Lies. Hahaha. Jadi kami yang make yaudindangdeh ya. Padahal kita udah appeal ke bos soal kertas bekas ini *lhakokmalahcurhat. Hahahaha

  3. mak Lies kereeeennn rumahnya ada tanam2an, kolam ikan sampe pelihara ayam juga.. ihh seneng kayanya kalo maen kesana :p sehat semua ya mak, kalo sumber makanan hasil panen sendiri, lebih alami n berkah ^^

    • Rumah ala desa Mak Ari…ayok kapan – kapan ke rumahku, Jogja – Purworejo kan deket, jagoanmu pasti suka deh…bisa maen sepedaan sepuasnya tanpa takut jatuh, karena halaman luas berumput…ato mau main bola sama jagoanku ?

      Iya sehat, sesuai anjuran dari jajaran petugas kesehatan sepertimu..🙂

  4. itu “aturan” genggam beras kog sama ya dengan mama.. mamaku kan istri tentara, jatah beras tentara itu suka “burem” jadi suka dituker sama mama ato dicampur dengan beras bagus, dan mama suka “nabung” beras dengan segenggam dua genggam dalam baskom tertutup, biar persediaan selalu ada.. ku bisa rasain loh sebab ku anak pertama, cewe pula yang bertanggung jawab pada 4 adik.. jadi ku yang masak beras.. kayanya orang sejawa gitu ya, sepupuku juga diajarin ibunya begitu.. itu baru soal beras.. belum ke gaya hidup yang emang harus bisa recycle biar ga banyak sampah..
    jadi pengen ikutan deh.. lagi banyak cerita nih..
    sukses ya mbak lombanya..

  5. harus disyukuri dan disisakan, agar rejeki selalu ada di setiap harinya.

    ini petuah yang sangat luar biasa …
    saya percaya akan kedigdayaan kalimat ini …
    saya percaya itu …

    Satu lagi …
    Kalau habis gajian … Ibu saya selalu bilang ke saya … endapkan dulu satu malam …
    Artinya gajian tanggal 28 misalnya … jangan langsung di ambil tanggal 28 …
    tunggu keesokan harinya … agar awet … begitu katanya

    Saya tidak tau apa misteri dibalik petuah ini … tapi saya rasa ini baik … agar kita berhemat

    Salam saya Jeng Lies

    • Betul Om petuah Nenek selalu digdaya bagi kita semua…

      Iya betul kata Bapak saya juga kalo gajian harus di endapkan semalam dulu…hihihi..sama ya kita..🙂

  6. Komplit Jeng Lies, dari gegeman beras, pemanfaatan pekarangan, efisiensi ATK. Pembelajaran dari leluhur yang sungguh bijak ya. Semoga bisa meneladan Jeng Lies. Salam hangat

    • Irit ala desa Mbak Prih…#terbiasa hidup sederhana dari kecil mungkin ya…hehehe
      Filosofi orang tua jaman dulu selalu dalam dan bijak..jadi kangen petuah nenek Mbak..

  7. Aduh jadi kangen pelihara ayam kayak dulu masih kecil, sekarang pengen pelihara ayam di komplek jadi mission imposible karena kalo maksain bisa ditimpukin tetangga2 sebelah # horor virus SARS dan Flu Burung:mrgreen:

  8. Di rumah saya selama ini gak pernah menakar beras, Mbak. Karena emak saya punya warung sembako kecil2an, Jadi pas mau masak, tinggal nimbang beras di warung, misalnya sekilo.🙂
    Nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua memang bisa dipakai terus dan sangat bermanfaat ya, Mbak🙂

    Terima kasih sudah ikutan GA Irit tapi bukan pelit. Sudah tercatat sebagai peserta🙂

    • Wow senengnya Kaka Akin…punya warung sembako, jadi enak bisa ambilin jajan juga ya hehehe

      Betul nilai yg di tanamkan orang tua selalu bermakna dalam dan amat berharga..

  9. Ping-balik: Pengumuman Pemenang GA Irit tapi Bukan Pelit | Try 2B cool 'n smart...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s