DIGITAL AGE


Mempunyai anak baru gede itu menurut saya kok ‘ngeri – ngeri sedap’ ya…#minjem istilahnya Pak yg itu lho….BB ^^. Kenapa bisa ngomong gitu Mak Lies ? Iya…sedapnya, senang aja ngeliatin dia tambah gede, ceria dan enerjik #mirip saya muda…halah info gak penting bingit ! :D. Rasanya baru kemarin sore saya lahirkan kok tiba – tiba sudah remaja aja, udah rebutan sepatu, sendal, baju, tas sama saya…Pinter berdebat dan skak balik saya. Padahal rasa ‘ngruntel – ngruntel’ di dalam perut masih berasa sampai sekarang. ๐Ÿ˜€

Sedikit cerita jaman dia masih di dalam perut, tiap hari di bawa Emaknya, bergelantungan di bis kota membelah paginya Jakarta, bergelut dengan macet, berebut dengan penumpang bus yang kadang gak mau tahu kalau saya sedangย  hamil tua. Sampai pernah pula saya pingsan dengan suksesnya di dalam bis. :(. Alhamdulillah, sadar sendiri pas sampai di halte tujuan di Plumpang kemudian meneruskan perjalanan ke daerah Kelapa Gading Jakarta Utara, sampai di kantor sehat, selamat tak kurang suatu apa. ๐Ÿ™‚

Balik ke topik semula….trus ‘ngeri’nya…hmmmmm saya berasa seperti punya sesuatu yang harus selalu di jaga, di rawat dengan sangat hati – hati karena takut rusak, cuil, pecah dan sebagainya. Apalagi di hari gene gitu lho….Beneran saya sering curhat dengan sesama emak – emak yang mempunyai anak baru gede. Seringkali saya merasa ‘gagal’ mendidik dia. Kenapa ? Saya merasa kok, ternyata sulit ya, membuat anak itu mau mematuhi peraturan yang kita terapkan di rumah. Sering membantah dan keras kepala. #Seperti saya dulu kali ya… ๐Ÿ™‚

Etapi ternyata saya masih bisaย  bernapas lega, karena ternyata emak – emak yang senasib dengan sayapun mengalami hal yang sama. Misalnya menyuruh anak melakukan A, dia malah melakukan yang B, di nasehatin ABCD dia menjawab EFGHIJKLMNOPQRSTUVWQYZ……beneran, saya sok merasa, duh gagal deh eikeh jadi emak yang baik. Hiks !

Konflik – konflik kecil di rumah seperti itulah yang membuat saya selalu introspeksi diri, merenungi, belajar dan menggali banyak hal tentang seluk beluk remaja masa kini. Remaja sekarang yang di sebut Digital Age, karena mereka lahir di era digital, bahkan pas lahirpun emaknya juga wes pegang hape Nokia pisang, yang kalau di dalam angkot di silent, takut di lirik pencopet. Hihihihihi #Masih inget jaman kartu perdananya Mentari biar gak roaming kalau telepon ke kampung dan harga kartunyaย  mihil banget.

Lalu, apa hasil renungan saya itu…

Saya harus menjadi emak yang fleksibel, yang harus tahu dunia dia. Saya gak boleh menuntut terlalu banyak untuk memahami emaknya, tapi emaknyalah yang memahami dia. Mudah ? Tentu saja tidak, makanya saya berbagi dan curhat di sini.. ๐Ÿ™‚

Langkah – langkah yang mesti saya jalani seperti di bawah ini,

1. Mengubah cara pandang emaknya yang katrok ini, yang masih suka memandang negatif dan terlalu lebay mengkhawatirkanya. Terkadang perasaan – perasaan itulah yang memenuhi benak saya, jika misalnya jam sekian harusnya sudah pulang les, tapi si dianya belum juga menampakaan batang hidungnya atau tak mengabari apapun ke emak bapaknya. Wes langsung kepala saya penuh bayangan – banyangan negatif, dan penginnya emosi. Padahal ini salah besar pake banget, so dari sini saya memulai untuk bersahabat dengan perasaan negatif dan mengubahnya menjadi perasaan positif, yang otomatis menurunkan tensi darah yang tadinya naik menjadi turun, otot yang tadinya tegang jadi mengendur, ketika melihat dia pulang masih lengkap dengan senyum manisnya.

2. Berusaha memahami dunia remaja mulai dari sekolah, teman – temannya, hobinya bahkan saya berusaha bisa berbahasa gaul ala dia, sering lho saya intip chatt dia dengan teman – temannya atau akun facebooknya. Jika menemukan chatt atauย  status yang menurut saya kurang sopan, saya tegur dan jangan sampai terulang lagi. Sejauh ini sih, dia fine -fine aja, emaknya ikutย  intip gadgetnya seijin diaย  dan saya masih sangat merasa aman dengan lingkungan pergaulan, tata bahasa, sikap dan tingkah lakunya di dunia maya.

Barisan ABG saya, Keponakan2 (ki-ka) : Mbak Asha, Mbak Ayu dan Sulung saya, Alifa Aulia :)

Barisan ABG saya, Keponakan2 (ki-ka) : Mbak Asha, Mbak Ayu dan Sulung saya, Alifa Aulia ๐Ÿ™‚

3. Memilih tema obrolan yang sejalan dengan dia, kadang – kadang malah membuat emaknya awet muda #kriikkkk :P. Bagaimana tidak, dia yang hobi bermusik, dan gencar belajar main gitar, suka terkaget – kaget, jika emaknya ikut bersenandung dan paham lagu yang sedang dia hapalin, lha gimana enggak hapal, wong dia suka lagu – lagunya Chrisye, Ebiet G Ade, Iwan Fals…itu kan jaman emaknya banget ! :). Dan satu lagi dia juga hobi foto makanan meski masih geje, tapi ngobrolin soal ini jadi asyik juga, meski pas masak makanan di dapurnya selalu ‘berantem’ duluan hahahaha. #teuteup !

4. Emaknya harus menghargai proses, ya semuanya memang mesti berproses, seperti misalnya tanggung jawab dia untuk mencuci dan menyeterika bajunya sendiri, mengelola uang sakunya, mengelola waktunya yang padat dengan jadwal sekolah, les dan esktra kurikulernya. Tanggung jawab seperti ini kan tidak seperti mie instan yang tinggal seduh langsung dikonsumsi, tapi perlu proses yang panjang untuk menjadikan dia sebagai remaja yang matang danย  tanggung jawab atas dirinya sendiri.

5. Remaja butuh di hargai, sekecil apapun pencapaian mereka, bayangkan kalau diri kita tak di hargai orang lain, sedih, marah dan kecewa bukan ? Diapun sama seperti kita, terkadang kita justru mencela, dan menuntut kurang ini kurang itu…duh, padahal kalau kita digitukan juga ingin berontak ya. Hihihihi. So, tempatkan diri kita pada posisi yang sama sebagai remaja, pasti bisa kok memahami danย  menghargai mereka. Sayapun sedang dan akan selalu belajar dari anak – anak yang selalu saya cintai, sayangi dan banggakan sampai nanti.

Demikian curhatan gak jelas atau malah jelas ya ? Semoga ada feed back dari sahabat – sahabat yang membaca dan kita bisaย  belajar bareng – bareng, cara mendidik putra – putri kita agar menjadi anak – anak yang kita harapkan. Jika ada tips dan trik dari para sahabat saya berterima kasih sekali jika mau sharing di sini. ๐Ÿ™‚

Salam.. ^^

Iklan

26 pemikiran pada “DIGITAL AGE

  1. Wuah, saya kudu banyak belajar dari njenengan mbakyu. Sumpehloh pingsan di bus dan bangun lagi sendiri? Dari dulu orang-orang jakarta emang agak kuper ya mbakyu ternyata, kurang perhatian. Geleng-geleng mbayanginnya..

    • Daniiiii…belum bobo….? Ah iyaaa…aku juga lagi belajar jadi ortu yang baik… ๐Ÿ™‚
      Hmmmm ..iya kalo mbayangin pas masa itu…kayaknya enggak mau deh terulang hihihii…etapi pas pengalaman naik commuter line, pelayanan publiknya sudah lumayan oke sik ! Mdh2an dengan pemerintahan baru nanti Jakarta lebih ramah di semua bidang…:)

  2. Setuju sekali dengan point2 di atas mbak Lies ๐Ÿ™‚

    Anak dilahirkan pada zaman yg berbeda dengan kita, jd perlakuannya pun jelas berbeda. Menjadi orang tua itu memang dituntut terus untuk meng-apdet ilmu dan pengetahuan, kudu cerdas begitu.
    menjadi orang tua sekaligus sahabat buat anak-anak kita ya mbak Lies… ๐Ÿ™‚

    Tulisan yg cantik…jempoool…:)
    Dan sekarang saatnya tiduuuur…!! Hihi

  3. Wuuaaa,… saya bingung sebagai komenter dari pihak emak atau anak (usia nanggung ๐Ÿ˜† )
    tapi saya paling suka sama emak gaul, bukan yang pake rok mini, pake high heels make up tebal, bukan, tapi emak yang mengerti dunia sekarang beda sama dunia jaman dia abegeh dulu tapi tetep mendidik yang baik ๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s