BAHAGIA TAK SERUMIT YANG KITA KIRA


Judul : Bergumul Dengan Gusmul
Penulis : Agus Mulyadi
Penerbit : Mediakita
Cetakan I : Januari 2015
Tebal : 208 hal

Apakah sebenarnya hakekat kebahagiaan itu ? Relatif ! Ya, masing – masing orang punya pandangan tersendiri tentang apa itu sebuah kebahagiaan, tergantung dari cara pandang mereka. Jika kebahagiaan yang kita cari itu sangat sulit kita dapatkan, mari persempit cara pandang kita tentang sebuah kebahagiaan. Hal – hal sederhana, hal – hal sepele di sekitar kita, lingkungan, keluarga, saudara, tetangga, teman dan orang – orang yang kita temui, banyak menebarkan kebahagiaan – kebahagiaan tak ternilai.

Itu mungkin yang akan di sampaikan di dalam buku setebal 208 halaman ini. Banyak cerita sederhana yang di tulis ringan, enak di baca dan segar, humor – humor khas wong Magelangan tertuang nyata dalam berbagai cerita yang ditulis oleh Mas Agus Mulyadi yang memang asli wong Magelang ini. Sosoknya pernah saya tulis di postingan beberapa waktu lalu ketika saya bisa bertemu langsung dengannya.

Penggalan cerita sehari – hari memang pernah saya baca di blog Mas Agus, namun selebihnya mungkin sengaja disimpan khusus untuk buku ini. Meskipun di baca berulang kali, tak hanya menerbitkan senyum simpul namun terkadang justru tertawa to the max, saat sentilan – sentilan khasnya mewarnai beberapa ceritanya.

Membaca cerita di dalam buku ini seperti saya berkaca pada dirisendiri, keseharian yang hampir sama karena mungkin dari geografis kota yang berdekatan, latar belakang lingkungan dan keluarga yang hampir sama. Yup ! Buku ini saya banget !

Buku ini sangat humanis, segala perasaan suka duka pribadi, pertemanan yang solid, cinta sederhana juga fenomena paling up to date tentang negeri ini, semua dikemas dengan jenaka. Kisah antara Bapak dan Emak Mas Agus dengan judul Gara – gara Fotokopian KTP ( hal.31 ) atau juga Pengkhinatan 212 ( hal. 133 ) sukses membuat saya terpingkal – pingkal di ujung sore nan cerah kemarin.
Romansa antara Bapak dan Emak tak luput diceritakan juga dalam cerita Asmara Emak Bapak ( hal. 95 ) dan Jo, Panggilan Bapak dan Emak ( hal. 109 )

Hal – hal kecil yang di alami dan terlihat muskil dalam keseharian ternyata mempunyai nilai hidup yang tinggi dan mengajari sebuah hal contoh soal dalam cerita Tawakal Kaum Gentho ( hal.37 ) atau dalam cerita Kawat Gigi, Rokok dan Rasa Syukur ( hal.41 ).

Penasaran ? Masih banyak hal – hal ‘makjleb’ dalam buku ini, tentang perasaan kasih sayang terhadap hewan peliharaan maupun perasaan cinta antara penulis dengan gadis pujaannya, semua tersaji di sini.

Sangat surprise ketika membaca lembar – lembar terakhir buku ini, mungkin inilah curahan perasaan Mas Agus selama ini yang ditulis berupa surat monolog, yang mau tak mau membuat saya haru meski tetap dibarengi senyum simpul.

Buku sederhana namun bermakna luas ini, cocok untuk menemani,saat penat jiwa raga melanda. Cerita – cerita yang menarik, font tulisan yang bersahabat dan editing yang bagus ( tanpa typo ).

Yang agak mengganggu bagi saya justru sampul buku ini, kenapa  warna background foto penulis dipilih warna pink ya ? Apa karena sang penulis sedang jatuh cinta? Entahlah, mungkin itu hanya soal selera. Karena menurut saya,  lebih cocok dengan background warna – warna kombinasi earth sesuai dengan jiwa dan karakter penulis. ( Ngapuro , jika saya salah persepsi ya, Mas Agus )

Selebihnya buku ini sangat layak dikoleksi, di baca, dan dicerna, melalui ini saya ikut mendoakan semoga buku ke-2 ini laris manis seiring dengan kesuksesan – kesuksesan yang di raih sebelumnya.

Membaca buku ditemani segelas sirop dan se'cup' kue, muffin melengkapi soreku. :)
Membaca buku ditemani segelas sirop dan se’cup’ chocolate muffin melengkapi soreku. 🙂
Iklan

29 pemikiran pada “BAHAGIA TAK SERUMIT YANG KITA KIRA

  1. Lho mbak Lies wes ketemuan karo Gus Mul? Weeehhh ra ngajak-ajak toh mbakyu? 😀
    Tulisan Gus Mul sebenarnya sederhana banget. Cerita-cerita yang diangkat juga biasaa banget. Yang membuat menarik dan ingin mengoleksi bukunya adalah kemasan gaya yang unik, nyentil, dan jebakan dialek Jawa yang membuat tertawa sendiri saat membaca. Ini buku kereen. Saya suka saya suka 😀

    • Iya waktu acara Passion Blogging with Mak Injul di Jogja… 🙂

      Yup ! Bener banget, daya tarik justru dari kesederhanaan cerita dan sangat dekat dengan keseharian namun di kemas asik..aku juga sukak ! :))

  2. Nah ini buku yang sempat saya lirik pas dapat newsletter dari salah satu toko buku online langganan. Tulisan ini membuat lirikan saya harus segera diwujudkan dalam bentuk pesanan nih

  3. wah, matursuwun tenan lho mbak atas repiuwnya….

    btw, saya sendiri sebenarnya juga kurang tau alasan kenapa pink… mungkin itu pertimbangan penerbit biar banyak yg comot buku itu di toko buku (katanya pink itu eye catching). Sebenarnya saya pengin putih, tapi nanti takut kontras sama wajah saya, kalau item, nanti takut dikira buku panduan ilmu ghaib… hahaha

  4. Cerita keseharian yang dikemas apik membuat setiap pembaca membatin saya banget. wuih mengin-menginni nih Jeng Lies repiyu kerennya. Salam

  5. isinya kelihatannya menarik ya Mbak Lies.. tapi ya juga ya..kenapa kok sampulnya berwarna pink ya? . tapi kalau dipikir, memang haram ya kalau buku tulisan cowo berwarna pink? Sebenarnya nggak juga kan ya? he he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s