PANTAI MENGANTI, PESONA YANG TERSEMBUNYI


Menempuh perjalanan 2,5 jam dari Purworejo menuju Gombong, patokan saya setelah Gombong kota akan menemukan Rumah Makan Mang Engking Putra dan tak jauh lagi akan ada papan penunjuk ke arah Gua Jatijajar, Gua Petruk,Pantai Ayah dan Pantai Logending kita akan belok ke arah kiri melewati Terowongan Ijo, perjalanan masih tenang aman dan damai di tambah dengan suasana mendung pada hari Minggu kemarin, membuat Bungsu saya terlelap sepanjang perjalanan.


Semakin dekat ke arah pantai Ayah dan Logending sepanjang jalan menghampar di sisi kanan rawa dan sisi kiri perbukitan kapur yang menurut saya sangat nyeni, karya Sang Maha Seni, perjalanan masih landai, angin laut menyapa lembut dengan aroma yang khas, melewati pantai Ayah yang indah, kita masih harus meneruskan perjalanan yang cukup ekstrem, naik, turun, menikung tajam, naik lagi dengan pemandangan yang berulang kali membuat bibir kami serempak mengucap Subhanalah ! Allahu Akbar!
Betapa pemandangan selama perjalanan sangat menakjubkan, pegunungan kapur ( karst ) yang indah, kadang berundak – undak menyerupai sistim bercocok tanam tumpangsari di Bali, kadang hanya pegunungan kapur dengan semak belukar apa adanya dari ketinggian sesekali terlihat lautan luas mengintip di sela selanya.
Setelah menahan rasa antara takut dan takjub selama hampir 1 jam, sampailah di pintu loket Pantai Mneganti., walaupun masih penasaran tapi kelegaan itu terbaca dari wajah – wajah tegang kami..hehehe. Dengan membayar per orang Rp.10.000,- kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Pantai Menganti, o ya si Bungsu gak ikut bayar lho, Cuma yang dewasa saja yang bayar karcis masuk.
ADA APA DIBALIK PEGUNUNGAN KARST?
Taraaaaaaa……
Ini toh, yang membuat saya penasaran setengah mati setelah beberapa hari sebelum hari ‘H’ tiba bolak balik ubek – ubek Pakdhe Gugel untuk mencari tahu tentang pantai nan eksotis ini. Bau anyir pasar ikan di depan mata langsung menyeruak begitu kami turun dari kendaraan, alhamdulillah sampai di pantai, cuaca cukup cerah, membuat kami lega dan segera menghambur ke hamparan pasir putih pantai.
Tapi, wait ! Bukankah ini tempat para nelayan menyadarkan perahu – perahunya ya ? Sempat berbincang dengan Bapak Sairin nelayan setempat yang kebetulan tidak melaut, Beliau bilang hari itu tak melaut karena ombak cukup tinggi, jadi waktu luangnya digunakan untuk membetulkan perahu dan jala ikan.

Keranjang ikan yang udah kosong :D

Keranjang ikan yang udah kosong 😀

Pak Sairin
Meskipun saya rada – rada pusing dengan bau amis dan anyir ikan, tapi demi si Bungsu yang asyik mencari kelomang, kepiting dan kerang, saya mencoba bertahan di hamparan pasir putih yang berbaur dengan belatung – belatung yang berkembang biak disebabkan oleh ikan – ikan busuk hasil tangkapan nelayan yang terserak di pinggir pantai. Rasa jijik dan geli itu terabaikan dengan wajah cerah si Bungsu mendapatkan seplastik kelomang dan kerang – kerang cantik.


KE TEBING BIDADARI
Alhamdulillah seorang nelayan menemui kami, kami langsung mengembang. dan mengatakan bahwa kalau mau ke pantai yang bersih bisa di pantai depan Tebing Bidadari…Ha di mana itu ? “Mbak bisa naik angkutan yang di sediakan itu”, sambil tanganya menunjuk ke arah mobil pick up yang terlihat masih gres di tandai dengan nopol yang masih profit alias putih yang di rancang sedemikian rupa disediakan oleh sebuah biro perjalanan di Kabupaten Kebumen untuk angkutan para wisatawan pantai. Dan itu haraaaateeeesss Buibu ! Iya Gratis tis ! Senyum kami langsung mengembang.

Si Bungsu tak sabar ingin segera ke Tebing Bidadari

Si Bungsu tak sabar ingin segera ke Tebing Bidadari

Yeay ! Kami tiba di Tebing Bidadari, berupa deretan tebing tinggi menjulang yang bagai diiris oleh alam dengan warna putih kapur dan di depanya terhampar pantai bersih dengan pasir putih yang menghampar. Mengapa di namakan Tebing Bidadari ? Tak ada yang bisa memberikan penjelasan kepada saya, pun Mas supir yang mengantar kami. Jadi pertanyaan itu tetap tersimpan di benak sampai kini 🙂

Tebing Bidadari tuh kayak gini :)

Tebing Bidadari tuh kayak gini 🙂

Perpaduan antara pegunungan kapur dan pantai juga batu – batu karang membuat pantai ini kian eksotis. Tidak perlu ke Lombok lho Jeng, ini udah kayak di Lombok, begitu salah seorang sahabat bilang ! Asyik dong kalau begitu gak usah jauh – jauh kalau ingin menikmati pemandangan indah pantai dengan kombinasi indah seperti ini.
KE TANJUNG KARANG BATA
Dari Tebing Bidadari terlihat di kejauhan sebelah kiri menjorok bukit dengan bangunan mercusuar yang cukup menonjol. Penasaran ? Sayapun demikian, iseng saya menanyakan kepada Mas supir pick up yang membawa kami, bisakah kami ke sana ? Dan langsung Mas supirpun mengiyakan, dan kamipun meluncur ke arah balik ke pantai nelayan tadi, dan ternyata mesti berjalan kaki untuk sampai ke bukit walaupun banyak juga yang menggunakan motor roda dua. Tapi jika saya di suruh memilih, saya tetap memilih jalan kaki saja ! Jalan yang harus dilewati menanjak cukup tinggi berkelok dan curam , mengingatkan semasa ikut Pramuka 🙂

Yuk kita naik ke puncak bukit.. :)
Naik – naik ke puncak bukit dengan kiri kanan kulihat laut, pohon cemara dan semak belukar itu sungguh mengasyikan. Melewati bukit Pedudulan, Sigatel, Menguneng keringat bercucuran dan kaki berasa di banduli batu segede tas ransel terbayar lunas sesampai di atas bukit, pemandangan itu…..wooooaaa…pemandangan pantai Menganti persis plek ketiplek tiplek dengan foto – foto yang ada di Pakdhe Gugel, yang dari datang tadi terselinap rasa penasaran, mana pemandangan yang seperti di gugel, ternyata di sini tooooo……..#tepokjidatpakemendoan!


Di Tanjung Karang Bata inilah sebenar – benarnya pemandangan pantai Menganti itu terlihat jauh lebih indah dengan tepi pantai berupa pegunungan kapur berundak yang di lengkapi bangunan gazebo – gazebo mungil berjajar cukup banyak di hampir sepanjang tepi pantai. Tempat melepas penat dan memandang lepas ke laut dengan puas tanpa takut kepanasan plus di tingkahi angin sepoi – sepoi dari bukit ini, kita cukup mengeluarkan kocek Rp. 10.000 saja, mau sebentar atau seharian juga boleh lho ! 😀


KE MERCUSUAR !

Jauh – jauh dari Purworejo, sayang kalau tidak sampai mercusuar ( gardu pandang ) yang dari Tebing Bidadari tadi terlihat menjulang di kejauhan, sudah sampai sini harus dong sampai ke atas lagi. Naiklah saya dengan si Bungsu demi rasa kepenasaran saya, sekilas jadi ingat bacaan favorite semasa SMP yaa….Petulangan Lima Sekawan nya Enid Blyton yang berjudul Berlibur Ke Pulau, dulu Cuma bisa membayangkan, kini di depan mata…ahhhh betapa menyenangkan jika waktu masih bisa berulang yaaa, hihihihi.

SANYO DIGITAL CAMERA

Di Bukit Pedudulan inilah Mercu suar di bangun, kalau ditilik dari bangunanya sih, sepertinya belum lama di bangun, sayang tidak boleh sembarangan wisatawan masuk, bengunan di pagar tembok dan di gembok gede, so Cuma bisa memandang dan menerangkan kepada si Bungsu, tentang kegunaan mercu suar ini. Di bawah mercusuar juga terdapat gazebo – gazebo mungil cuma sayangnya sudah pada terisi pasangan muda – mudi. Kita turun aja yuk Dek !
MENIKMATI MENDOAN JUMBO DI ATAS BUKIT
Pantai, kelapa muda dan ikan bakar adalah kolaborasi yang biasa dan bagi saya menikmati tempe di pantai adalah antimainstream, sebagai penikmat tempe sejati, mencium bau tempe goreng selalu membuat saya excited ! Hhihihihi ! Dan di sinipun banyak di jajakan tempe mendoan.Turun dari bukit, sambil melepas penat, mampir sejenak di warung yang banyak berjajar di sisi jalan. Saya cuma pesan teh manis plus tempe mendoan. Tahukah kawan ? 5 menit…10 menit pesanan saya terhidang….tralalala trililiii…itu mendoan apa kipas yah ? Gede sekaleeeee…..bisa untuk maem berdua, disajikan bersama sambal sambal kecap, meski menurut saya lebih nendang jika di sediakan cabe rawit ijo untuk diceplus bersama tempe mendoan.

Sapa mauuu...

Sapa mauuu… ?

GAK BISA KE GUA SARANG BURUNG DAN GUA SIWOWO

Si bungsu merengek minta ke Gua Sarang Burung, iya dia baca di body mobil pick up yang tersedia 4 destinasi di wilayang pantai Menganti ini, salah 2 anya ya itu tadi. Tapi ya jelas saya yang gak mau misalnya bisa di antar ke sana, karena harus melintasi lautan dulu baru sampai di tekape, melihat lautnya saja udah serem dengan ombak cukup tinggi dan air pasang. Jadi nunggu kamu dewasa ya Nak, beneran sumpah Ibu gak berani kalau harus melintasi laut seperti ini
KE MENGANTI KAMI KAN KEMBALI
Berharap lima tahun mendatang, penataan, sarana dan prasarana di pantai Menganti ini jauh lebih baik, jauh lebih bersih terutama di pantai nelayannya. Kalau sekarang masih dalam taraf pembenahan kami sudah bisa menikmati toilet dan mushola yang asri dan bersih, mudah – mudahan di waktu mendatang jalan menuju bukit sudah di aspal sampai atas, jadi sepatu atau sandal para wisatawan gak belepotan lumpur lagi. Atau andai di tahun mendatang segera di dirikan beberapa home stay atau ruang – ruang pertemuan, enak kali ya gathering blogger di sini 😀

Mushola dan toilet yang bersih dan asri...tuh Bungsu saya yang lari kebelet pipis :D

Mushola dan toilet yang bersih dan asri…tuh Bungsu saya yang lari kebelet pipis 😀

Iklan

8 pemikiran pada “PANTAI MENGANTI, PESONA YANG TERSEMBUNYI

  1. Kalau bau anyir mungkin masih oke lah , tp kalau lihat belatung2…dududu saya orangnya malu-maluin deh.

    Foto2nya seperti biasa cakeeep…😍😍
    Apa kabaaaaar…?? kemana ajaaaa..??? *trs nunjuk sendiri* hihj

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s