RESENSI BUKU : MENANTI CINTA


 

menanti cintaJudul Buku                      : Menanti Cinta

Penulis                            : Adam Aksara

Penerbit                          : Mozaik Indie Publisher, Malang

Cetakan                           : Pertama, Februari 2014

Tebal                               : vii + 221 hlm, 13 x 19 cm

ISBN                                : 978-602-14972-3-4

 

Cinta adalah hal yang paling absurd di dunia ini, begitu pula dengan perjalanan sebuah cinta itu sendiri. Di dalam buku bersampul bernuansa gradasi merah, kuning,  hitam, dengan ilustrasi manis ini, mungkin salah satu pengukapan cinta absurd milik sepasang anak manusia. Kisah cinta yang di buka oleh cerita seorang penulis biografi tanpa nama, hingga cerita berakhir, tetap tak di ketahui siapa penulis misterius itu, hingga sukses meninggalkan jejak penasaran dalam benak. Baca lebih lanjut

[ Berani Cerita #07 ] : Si Pendiam yang Aneh


Gemeriap pesta pedang pora, membucahkan bangga dalam dadaku. Berdentam. Bertalu – talu. Bergemuruh sekaligus khidmat, syahdu dan sakral !

Laki – laki muda gagah tegap menggamit pengantinnya, perlahan mantab berjalan di bawah gapura pedang pora, yang terdiri dari 13 laki – laki muda  tak kalah gagahnya. Laki – laki muda yang mengenakan baju pengantin militer serba putih itu, bermuka manis dengan badan yang kuturunkan kepadanya. Tegap dan menjulang. Ya, dia anakku ! Anak lelakiku satu – satunya. Yusuf Tegar Hanggara ! Baca lebih lanjut

# PostcardFiction : DARA


Mata beningnya mengerjap – ngerjap jenaka, ketika es krim vanilanya terjatuh membahasahi hampir seluruh ujung sepatu baletnya. Mengembangkan senyum termanis, berusaha tak menampakan kekecewaan, kuncir rambutnya bergoyang – goyang lucu tertiup angin.

Gadis yang manis, gadis yang  selalu membuat hari – hariku penuh warna oleh gelak tawanya. Bersamanya seperti larut dalam kegembiraan yang tak berkesudahan. Tak banyak kata, tapi aku tahu, dia sangat menyukaiku.  Begitupun aku.

Seperti siang kemarin, betapa cantiknya dia, membawakanku setangkai mawar merah, terbata – bata mengucapkan sesuatu, tapi belum sempat kutangkap apa maknanya, dering handphoneku, memutuskan pertemuan kami  siang itu.

*********************************

Taman Sekolah Luar Biasa itu  terasa sangat lengang, hanya notes kecil dan  pensil birunya kutemukan tergeletak di bangku kayu. Tak ada lagi gadis  berkuncir lucu, yang riang menangkap kupu – kupu bersamaku.

” Pak, gak ikut melayat ke rumah Dara ?”, Bu Murni guru wali kelas Dara menepuk pundakku lembut.

kartupos4

Note : Flash Fiction ini di ikut sertakan dalam Event Kampung Fiksi :  Event Baru #PostcardFiction Edisi Valentine

#PostcardFiction : Kesetiaan


“ Eh, lho Dik Ranti, apa kabarnya ?  “ sebuah suara membuyarkan kejenuhanku menunggu antrian di loket khusus Pensiun.

“ Alhamdulillah, kita dipertemukan lagi disini maafkan semua yang telah terjadi, aku tak tahu harus bercerita dari mana, yang jelas ini keajaibanNya, kita diberkahi umur panjang dan di beri kesempatan untuk bertemu kembali “.

Tak salahkah pendengaranku yang sudah berkurang ini ? Ya Allah, laki – laki di depanku ini Mas Haryo, suara wibawanya masih terdengar merdu seperti berpuluh – puluh tahun lalu, saat mengucapkan janji indah di bawah pohon angsana di sudut jalan desa. Sejak itu pula tak pernah lagi kudengar kabar beritanya, karena negara menugaskanya jauh ke negeri seberang, entah untuk berapa lama.

“  Nek, Nenek senyum – senyum dari tadi, ada apa nih ?”  Galih cucuku tiba – tiba berada di depanku.

“ Dari sini  kita langsung ke makam Kakek, kan Nek ?”

“ Ini bunga mawar pesanan Nenek buat Kakek , aih romantisnya Nenekku ini !” canda Galih seraya menstater mobilnya.

*******************************

kartupos1

Note : Flash Fiction ini di ikut sertakan dalam Event Kampung Fiksi :  Event Baru #PostcardFiction Edisi Valentine

[ BeraniCerita #2 ] Jalan Berkabut


” Bahagiakah kamu menikah denganku, Sruti ? ”

” Alhamdulillah, Allah memberiku jodoh yang baik seperti kamu, Mas “, Sruti masih bergayut manja pada lengan Febru suaminya.

” Rasa – rasanya Allah memang sangat sayang padaku, dan selalu memberi lebih, dari yang aku mau “.

Pagi yang sangat cerah, seperti mengerti isi hati sepasang pengantin baru Sruti dan Febru. Di rumah  mungil, rumah hasil kerja keras mereka,  Mengikat janji sehidup semati untuk menapaki babak kehidupan baru akan sebuah cita – cita mulia untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah dan penuh rahmah.

” Sruti, tolong aku buatin kopi dong, hari pertama masuk kerja nih, biar semangat nanti kalo di ledek teman – teman di kantor “.

” Yang mix ato yang biasa ? ”

” Seadanyalah, yang penting bisa menambah semangat kerjaku “.

” Mas, jangan lupa, bawa kue – kue itu buat teman – teman kantormu ya, anggap aja sebagai syukuran pernikahan kita, maklum kita kan nikahnya jauh di kampung, jadi mana mungkin kita mengundang mereka ya, kan ?

” Oke, aku berangkat dulu ya ?”

Tok…tok..tok…!

” Benar ini rumah Saudara Febru Arijanto ?”

” Benar Pak, maaf ada apa ya ?

” Siapa Sruti ?, seru Febru dari samping rumah seraya menuntun motornya menuju pintu depan.

” Maaf, tidak bisa saya jelaskan di sini,  Anda kami bawa untuk di periksa di kantor kami “! tegas Bapak berbadan tegap lengkap dengan pakaian seragam dinasnya.

Masih segar dalam ingatanku peristiwa menyakitkan itu, dan kini yang kutemui hanya selembar kertas lusuh, di pojok sel tahanan, terpercik darah kering di bagian atasnya,  tertulis beberapa kata, yang terlihat kamu begitu tergesa – gesa menulisnya.

Sruti, maafkan aku yang tidak sempat membahagiakanmu…

Bila kamu tak bisa menemui aku lagi, itu karena aku  membela diri karena aku tidak mau dituduh melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan. Sampai ajal menjemputpun aku tetap akan membela diri, karena kebenaran dan keadilan harus di tegakan di Bumi Allah ini.

Sruti, jika maut memisahkan kita, semoga kita dipertemukan kembali di pintu surgaNya nanti. Amin.

Raungan sirene memecah keheningan jalan berkabut menuju pemakaman sore ini.

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

[ BeraniCerita #1 ] Sekali Ini Saja


p2” Jadi, kamu tetap menolak aku jemput, Arini ?” , desak Sam laki – laki paruh baya itu setengah memaksa.

” Tidak, untuk sore ini Sam ,” hela Arini seraya memandang jauh ke tengah jalan raya di depanya.

” Kamu, tetap tak akan memaafkanku, Arini ? ”

” Ini adalah penolakanmu yang ke sekian puluh kali sejak aku kembali ke kota ini “.

” Sekali saja, Arini, aku mohon, sekali ini saja “, hiba Sam menatap lekat wajah Arini.

Tanpa menunggu jawaban Arini, di tariknya tangan wanita berhati lembut yang semakin mempesona dalam kematangan usia, masuk ke dalam mobil hitam berplat luar kota. Deras gerimis di luar mengiringi laju mobil yang membawa Arini ke lamunan masa silam. Sayup terdengar lagu kesukaan semasa masih bersama Sam, kekasih hati yang bertemu di kampus tercinta, yang kemudian dengan niat suci melangsungkan pernikahan, hingga membuahkan dua mutiara hati yang kini beranjak remaja, Gibran dan Ata, buah cinta kami.

” Arini, kamu melamun ?”

” Sengaja aku memutarkan lagu ini buatmu, ingatkah kamu saat itu, kamu terlihat begitu bahagia ketika aku memainkan gitar dan  menyanyikan lagu ini untukmu?”

Sam, tak tahukah dirimu, betapa aku sudah lama melupakan lagu ini, membenamkanya dalam – dalam ke kubangan masa silam yang memedihkan itu. Betapa aku lebih mementingkan masa depan anak – anak daripada bernyanyi – nyanyi yang lebih mematahkan hati. Empat belas tahun bukan waktu yang pendek buat aku, yang sendirian menanggung beban hidup bersama anak – anakmu Sam.

Apalagi sebelumnya aku tak pernah sekalipun mempunyai pengalaman kerja, kecuali hanya mempunyai selembar ijasah sarjana yang juga belum pernah sekalipun aku pergunakan untuk melamar pekerjaan. Betapa hidup terasa berat tanpa kamu Sam, sejak selembar surat cerai itu tiba di rumah orang tuaku dulu. Ironisnya kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk datang dan membela diri di persidangan cerai kita ? Kenapa Sam ? Sebegitu teganya hatimu terhadapku ? Kemana nuranimu saat itu ?

Sekarang, kamu berada di sampingku Sam, kemana rasa pongahmu ? Yang selama ini selalu kamu tunjukan lewat media sosialmu itu, kamu tahu Sam, Gibran bukan anak kecil lagi, dia membaca semua yang tertera dalam layar sosial mediamu itu. Rumah mewahmu, mobil barumu, cerita indahmu berkunjung ke negara satu ke negara lainya, bersama keluarga barumu makan malam di restoran satu ke restoran lainya, tak sadarkah dirimu Sam, betapa itu teramat sangat menyakitkan bagi Gibran, darah dagingmu sendiri, yang tumbuh menjadi anak yang berpikir  lebih dewasa dari usianya. Dia anak yang sangat baik dan pandai  bersyukur  dengan hidupnya yang sangat sederhana di kampung bersamaku.

” Lihat Arini, ada pelangi di ujung sana, indah ya ?”

” Mungkin itu isyarat buat hidup kita, buat anak – anak kita, Gibran dan Ata. ”

” Indah bersatu penuh warna, kamu mau kan Arini ?”

” Aku ingin menebus semua kesalahanku Arini, aku mohon kamu bisa menerimaku kembali “.

Belum selesai Sam melanjutkan kalimatnya, terdengar benturan teramat keras memekakan telingaku. Yang kurasakan  hanya darah mengucur deras dari balik kerudung putihku. Di menit berikutnya langit terasa gelap, hitam pekat. Lambat laun seberkas  cahaya putih di ujung langit  memancarkan seraut wajah cantik mendiang nenekku  yang tersenyum lembut menyambut kedatanganku.

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

#  Note : Gbr di ambil dari sini

# Note : Jumlah kata : 500