Fiksi, Serba - serbi

# PostcardFiction : DARA


credit
credit

Mata beningnya mengerjap – ngerjap jenaka, ketika es krim vanilanya terjatuh membahasahi hampir seluruh ujung sepatu baletnya. Mengembangkan senyum termanis, berusaha tak menampakan kekecewaan, kuncir rambutnya bergoyang – goyang lucu tertiup angin.

Gadis yang manis, gadis yang  selalu membuat hari – hariku penuh warna oleh gelak tawanya. Bersamanya seperti larut dalam kegembiraan yang tak berkesudahan. Tak banyak kata, tapi aku tahu, dia sangat menyukaiku.  Begitupun aku.

Seperti siang kemarin, betapa cantiknya dia, membawakanku setangkai mawar merah, terbata – bata mengucapkan sesuatu, tapi belum sempat kutangkap apa maknanya, dering handphoneku, memutuskan pertemuan kami  siang itu.

*********************************

Taman Sekolah Luar Biasa itu  terasa sangat lengang, hanya notes kecil dan  pensil birunya kutemukan tergeletak di bangku kayu. Tak ada lagi gadis  berkuncir lucu, yang riang menangkap kupu – kupu bersamaku.

” Pak, gak ikut melayat ke rumah Dara ?”, Bu Murni guru wali kelas Dara menepuk pundakku lembut.

kartupos4

Note : Flash Fiction ini di ikut sertakan dalam Event Kampung Fiksi :  Event Baru #PostcardFiction Edisi Valentine

Fiksi, Serba - serbi

#PostcardFiction : Kesetiaan


credit
credit

“ Eh, lho Dik Ranti, apa kabarnya ?  “ sebuah suara membuyarkan kejenuhanku menunggu antrian di loket khusus Pensiun.

“ Alhamdulillah, kita dipertemukan lagi disini maafkan semua yang telah terjadi, aku tak tahu harus bercerita dari mana, yang jelas ini keajaibanNya, kita diberkahi umur panjang dan di beri kesempatan untuk bertemu kembali “.

Tak salahkah pendengaranku yang sudah berkurang ini ? Ya Allah, laki – laki di depanku ini Mas Haryo, suara wibawanya masih terdengar merdu seperti berpuluh – puluh tahun lalu, saat mengucapkan janji indah di bawah pohon angsana di sudut jalan desa. Sejak itu pula tak pernah lagi kudengar kabar beritanya, karena negara menugaskanya jauh ke negeri seberang, entah untuk berapa lama.

“  Nek, Nenek senyum – senyum dari tadi, ada apa nih ?”  Galih cucuku tiba – tiba berada di depanku.

“ Dari sini  kita langsung ke makam Kakek, kan Nek ?”

“ Ini bunga mawar pesanan Nenek buat Kakek , aih romantisnya Nenekku ini !” canda Galih seraya menstater mobilnya.

*******************************

kartupos1

Note : Flash Fiction ini di ikut sertakan dalam Event Kampung Fiksi :  Event Baru #PostcardFiction Edisi Valentine