RESENSI BUKU : SURAT DAHLAN


surat dahlanSeorang DAHLAN ISKAN yang tiba – tiba menjadi buah bibir masyarakat Indonesia, namanya menjadi sebuah jaminan mutu bagi sebuah pergerakan. Ya, seorang Dahlan putera daerah Kebon Dalem yang berani  bermimpi dan berjuang keras mewujudkan mimpi cerdasnya.

Siapa mengira dibalik jiwa tegasnya dalam  mencapai sebuah cita – cita, ternyata Dahlan adalah seorang lembut hati dan pria yang sangat romantis, di dalam Novel SURAT DAHLAN semua itu terbukti. Saya selalu tersenyum membaca surat – surat yang ada di sini, bahasa sederhana, lugas namun menyentuh jiwa, ah andai saya yang menjadi Aisha, Maryati atau Nafsiah,  perempuan terakhir bagi pelabuhan hati Dahlan. Beruntungnya perempuan – perempuan itu mengenal lebih dekat dengan Dahlan.

Samarinda, kota tujuan perantauan bagi Dahlan muda,  di sanalah menemukan guru dari segala guru kehidupan. Teman – teman satu misi dan visi di PII ( Pelajar Islam Indonesia ),  surat – surat  dari Aisha, Dahlan jadi mengenal apa artinya merindu dan mencinta dalam kesunyian di tanah seberang.

Ataupun dahsyatnya surat dari  Bapaknya yang menggelorakan jiwa Dahlan muda untuk terus bertahan, berpacu merubah keadaan, tak peduli moncong senapan dan gertakan tentara mencecarnya.

‘ Di akhir surat ini, izinkan pula Bapak mengutip petilan kitab Lubabul  Adab. Di dalam kitab itu, Usamah ibn Munqidz dengan apik bertutur ihwal  pesan Nabi Isa a.s kepada para pengikutnya. ‘” Wahai para pengikutku, kalian tidak akan berhasil meraih cita – cita, kecuali kalian bersabar atas apa yang kalian tidak inginkan. Kalian takkan sanggup meraih keinginan, kecuali kalian meninggalkan apa yang kalian gandrungi.

Tuhan tidak pernah tidur. Meski begitu, tidak semua yang kita inginkan akan tercapai. Lagipula, mestinya kau menyadari, makin tinggi sebatang pohon, makin kencang angin menerpa. Begitulah hukum alam. Jadi tabahlah. Pada saat seperti itu terjadi. Sabar dan ikhlas adalah obat paling mustajab.

Salam dari Kebon Dalem. ‘

Ya, kata – kata dalam surat Bapaknyalah yang makin menguatkan hatinya untuk tetap bertahan di perantauan untuk menggapai sebuah cita – cita yaitu : Perubahan !

Ada sosok Nenek Saripa perempuan lembut dan tulus hati  merawat dirinya tatkala melarikan diri dari kejaran tentara karena Dahlanlah yang menjadi pemimpin pemberontakan di Tugu Nasional. Nenek Saripa juga yang mempertemukan Dahlan dengan  Sayid, yang belakangan justru bersama Sayid, Dahlan muda menemukan wadah yang tepat untuk menyuarakan isi hati yaitu sebagai seorang jurnalis di media Mimbar Masyarakat yang kemudian melejitkan kariernya menjadi seorang Redaktur Pelaksana.

Dengan bekal pekerjaan jurnalis, Dahlan muda memberanikan diri melamar Nafsiah yang berayahkan seorang tentara, Didukung Nenek Saripa yang sejak lama menangkap isyarat semesta bahwa Nafsiahlah yang akan menjadi ibu dari anak – anak Dahlan.

Inilah surat  Dahlan kepada Bapak Ibunya yang mengabarkan bahwa dia tidak lajang lagi, tulisan lugas sederhana tapi menyentuh ;

‘ Ibu, sekarang aku tidak lajang lagi. Seorang perempuan yang kucinta, dan juga mencintaikau, telah kupinang untuk membangun mahligai rumah tangga. Aku merumahkan harapan dan menanggakan doa hingga ke pucuk langit. Semoga kelak kami bisa menjadi keluarga yang damai dan saling mengasihi. ‘

Membaca novel ini seperti larut dalam dinamika jiwa muda, kebimbangan antara menggapai cita – cita, resah keadaan negara dan cinta. Semua teramu manis di dalam novel ini, saya seperti meluncur dari atas tebing kemudian jatuh dan menemukan sungai jernih penuh ikan di dalamnya. Saya suka gaya penulisan bahasa dalam Surat Dahlan, mengingatkan saya pada gaya bahasa Stephenie Meyer dalam sekuelnya Twilight.

Adalah Khrisna Pabichara, penulis muda kelahiran Makasar, Sulawesi Selatan yang telah menuliskan novel ini begitu apiknya, yang tak lain adalah sekuel dari novel Sepatu Dahlan yang telah difilmkan itu. Tak salah bila novel tersebut menjadi salah satu dari 5 Besar Anugerah Pembaca Indonesia 2012. Karena memang novel – novel karya Khrisna Pabichara layak untuk di baca oleh siapapun anak negeri ini. Novel penuh inspirasi dan terbukti. Dan….sayapun sedang menantikan dengan cemas novel sekuel berikutnya yaitu : Senyum Dahlan !

Sumber :

Judul Novel        : SURAT DAHLAN

Penulis                : KHRISNA PABICHARA

Penerbit              : NOURA BOOKS ( PT. Mizan Publika ), Jakarta

Cetakan I             : Januari 2013

Tebal buku          : 378 + xii

Harga                    : 62.500,-

Iklan

47 pemikiran pada “RESENSI BUKU : SURAT DAHLAN

  1. Aku membaca yang Sepatu Dahlan. Sejak dari kecil ternyata nasibnya mengenaskan..dan ditulis dengan bagus..asyik banget sampai gak nyadar saat sampai ke halaman akhir.

  2. Pinjeeeeeeeem….!!!!:D

    Kalau baca ttg surat, jadi ingat duluuuuu jaman pdkt nya mas Tri..kita jarang ketemu, cuma saling menitipkan tulisan..kalau mas Tri di atas kertas2 kecil gitu..mudah2an masih ada kalau pulkam nanti..jadi kangen bacanya 🙂

    • sayang aku gak punyaPDF nya mbak..kalo punya udah tak kirim ke email Mbak Ely..

      # kapan Mbak Ely pulang kampung lagi…aku pengin ketemu Mbak…di mana gitu..di Jogja yaa..

  3. Dhe dari dulu pengen beli bukunya, tapi sampe sekarang belum juga kebeli.. T_T
    Tapi baca resensi ini keren banget 😀
    Mba Lies mang pinter meresensi

  4. saluttt buat kak khrisna pabichara,, buku ‘sepatu dahlan’ is the best dehh.. Mskipun blum bca bku lnjutannya ‘surat dahlan’,. tp q yakin,pasti ceritanya gak kalah seru…
    ayooooo… jangan mao ketinggalan,buruan baca bkunya…. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s