MEMBANGUN KARAKTER POSITIF DAN BAHAGIA DENGAN PERMAINAN TRADISIONAL


Status BBM saya beberapa hari lalu saya tulis begini,

Asik hujan lagi, mari kita hujan – hujanan #lupabawapayung

Itu saya tulis spontan setelah mengunci pintu kantor, sambil menunggu angkot yang membawa saya pulang, sontak beberapa komentar dari beberapa teman masuk menemani saya yang menikmati derai hujan di bawah kanopi kantor, dan komennya hampir senada….

Masa kecil kurang bahagia ya Lis, hari gini masih ujan – ujanan ?

Mendadak saya kok sakit hati ya, dengan komentar yang mungkin amat biasa, tapi terasa ‘nyelekit’ bagi saya, lha wong masa kecil saya itu bahagia pakai banget….hahahaha

MASA KECIL SAYA YANG BAHAGIA

Menikmati masa kecil di era tahun 80 – an suatu masa di mana  kampung saya,  rumah tetangga  masih saling berjauhan, tetapi di halaman rumah Bapaklah   tempat teman – teman sebaya berkumpul, karena halaman rumah kami termasuk luas, anak – anak, laki- laki, perempuan semua ramai dari pagi hingga sore hari, jeda sepi jika pas jam – jam sekolah dan mengaji. Dan jangan di tanyakan di masa sekarang, rasanya mau nyenderin sepeda di samping rumah saja repotnya bukan main , kanan kiri rumah sudah di bangun rumah para pendatang, belum lagi para pengusaha besar dari kota yang membeli tanah pada warga kampung untuk di buat SPBU, Supermarket, Gudang produk dan lain – lain. Makin habislah ruang bermain kami dulu.

Tapi kenangan indah dan membahagiakan tak kan pernah lepas dari kampung kami yang kini makin sempit. Halaman tempat kami bermain, bertengkar ataupun di marahi secara berjamaah, sekarang menjadi candaan lucu bagi kami. Iya, dulu almarhumah Nenek saya yang paling sebal dengan tingkah kami waktu itu yang tergolong bandel, suka memanjat jambu biji dan jambu air dan ‘menggunduli’ habis baik buah yang sudah matang maupun yang masih ijo… hihihihi. Sehingga marah besarlah Nenek saya, karena jambu yang sedianya mau di jual ke pasar tapi telah habis ‘dirampok’ oleh cucu dan gengnya.

Tapi omelan Nenek saya itu tak pernah di gubris oleh kami,  dan sayalah yang paling bertanggung jawab atas habisnya buah jambu Nenek dan kotornya halaman oleh daun – daun jambu yang berserakan. Dan saya juga yang di hukum menyapu halaman yang menurut saya kecil itu luaaaaasss banget ! Meskipun manyun – manyun mengerjakannya, tapi yang terpenting saya dan teman – teman se geng bisa bermain sepuasnya di sana.

MASA KECIL = BERMAIN, BERMAIN DAN BERMAIN !

Bermain adalah dunia anak – anak, benak – kanak – kanak sayapun cuma di penuhi semangat bermain. Hampir segala permainan tradisional saya kuasai, iya loh. temen sebaya saya tuh suka benci, karena saya menangan, apalagi kalau bermain lompat tali, karena saya termasuk anak yang lumayan tinggi #halahgaya 🙂 Lalu apa saja permainan tradisional yang saya kuasai dan gemari itu? Ada beberapa baik permainan tradisional buat anak perempuan misalnya dakon, engklek, lompat tali atau bola bekel ataupun permainan buat anak laki – laki atau permainan bersama seperti gerobak sodor.

Tapi yang paling berkesan buat saya waktu kecil itu adalah bermain gundu,  balap egrang dan  bermain layang – layang. Huusshhh… itu kan permainan anak laki – laki Mak ? Yup, saya lebih suka bermain permainan anak – laki – laki, di banding permainan anak perempuan, entah karena tomboy atau karena semua saudara kandung saya berjenis kelamin laki – laki atau sayanya  dulu  termasuk anak nekatan. Ya embuh …. 🙂

Permainan Gundu / Kelereng

Saya dan dua orang teman perempuan saya yang bernama Pawit dan Desi ( kalian sekarang di mana ya?)  paling getol bermain gundu bareng sama beberapa anak laki – laki. Kita bertiga sering di anggap ‘pupuk bawang’ alias kalahan, tapi eits… jangan salah sangka, ketika permainan berakhir saku celana saya selalu penuh gundu karena menang dalam permainan. Kenapa bisa banyak banget gundunya ? Permainan kami seperti ini;

  • Membentuk kelompok bermain 6 – 8 orang
  • Masing – masing menaruh gundu 2 – 5 di dalam kotak yang kita gambar di tanah atur sedikian rupa hingga rapi.
  • Atur jarak antara kota gundu dan garis start untu memulai permainan, masing – masing anak memakai gundu satu untuk di lemparkan sebagai ‘gacuk’ ( gundu untuk menembak/menyentil agar gundu keluar dari kotak tadi )
  • Gundu di lemparkan ke arah kotak gundu, siapa yang gundunya paling dekat kotak, dialah yang pertama bermain, paling dekat kedua berikutnya, begitu seterusnya.
  • Pemenang adalah pemain  yang dapat mengeluarkan gundu dari kotak sebanyak – banyaknya dengan cara menyentilkan gundu ‘gacuk’ ke gundu di dalam kotak atau mematikan lawan dengan menyentil gundu lawan.

credit

Permainan Egrang

Masih segar dalam ingatan egrang pertama buatan saya dari tempurung kelapa yang di beri tali untuk pegangan.

credit

Waktu itu umur saya sekitar 7 – 8 tahunan, senang dan bangganya setengah mati, karena bisa membuat mainan sendiri. Meskipun waktu bermain balap egrang tempurung ini saya berkali – kali jatuh dan menangis. Hahahaha

Agak gede sedikit saya belajar bermain egrang dari bambu, yang ternyata susah sekali pada awalnya, karena harus menjaga keseimbangan badan, namun setelah berkali – kali mencoba, akhirnya mahir juga dan berani balap egrang dengan anak laki – laki, tapi kali ini saya harus mengaku kalah tangkas dengan mereka 😦

Bermain layang – layang

Permainan yang mengandalkan angin dan ketrampilan mengarahkanya, agar layang – layang tetap melayang indah di angkasa. Ada kenangan yang memalukan sehubungan dengan permainan ini, makanya sampai kapanpun tak pernah saya lupakan. Waktu itu saya masih kelas satu SMP, setiap hari Kamis sore saya harus mengikuti kegiatan eskul Pramuka Inti ( eskul Pramuka yang disiapkan untuk mengikuti Jambore ).

Karena kegemaran saya akan bermain layang – layang yang membuat saya sampai lupa waktu, akhirnya juga menjadi lupa kalau harus berangkat ke sekolah mengikuti kegiatan eskul Pramuka. Di tanah lapang sebuah Sanggar Bakti Pramuka tak jauh dari rumah,  saya asyik masyuk dengan layang – layang, rupanya kegiatan eskul Pramuka  yang biasanya di adakan di halaman sekolah, sore itu  juga di adakan di sana. Apa yang terjadi bisa di tebak bukan ?

Sudah ketahuan bolos eskul eh malah bermain layang – layang lengkap dengan galah bambu yang salah satu ujungnya saya pasang ranting untuk berjaga – jaga bila tanding layang – layang dan ada yang putus kalah, saya bisa mengejar dan mendapatkan layang – layang itu kembali, baik itu milik saya sendiri atau milik lawan, karena siapa yang benang layang – layangnya putus, layang – layangnya menjadi rebutan. Anak perempuan macam apa saya ketika itu ya ? 😀

Semenjak itu saya jadi bahan olokan di kelas tidak ada habis – habisnya, rasa malulah yang membuat saya berhenti bermain layang – layang, meskipun sekarang setelah mempunyai anak, sayalah yang mengajari si Bungsu menaikan layang – layang ke udara. Bapaknya ? Gak bisa saudara – saudara  🙂

BAGAIMANA DENGAN ANAK – ANAKMU MAK ?

Banyak  pasangan – pasangan muda sekarang  yang melarang anaknya untuk bermain di luar dengan berbagai alasan, namun dua anak saya benar – benar anak kampung, mereka berdua masih bermain dengan permainan tradisional ala Ibu – Bapaknya. Mereka generasi era masa kini, tapi saya lebih menekankan pada pembentukan karakter anak melalui berbagai macam permainan tradisional yang pernah saya tulis di sini.

Ada pengalaman dan hikmah berharga ketika saya pernah bekerja pada sebuah perusahaan milik keluarga, yang notabene saya menjadi bagian dari keluarga tersebut yang tentu saja mengenal baik seluruh anggota keluarga termasuk anak – anaknya dari yang masih bayi sampai yang sudah dewasa.

Karena dari latar belakang keluarga mampu, tentunya masa bermain kanak – kanak mereka berbeda dengan saya, sehingga karakter yang terbentukpun juga sangat berbeda. Ilmu dan pendidikan memang mereka jauh lebih tinggi dan maju tapi sikap, tingkah laku dan kebiasaan sungguh sangat berbeda atau boleh dikatakan berbanding terbalik dengan ilmu yang mereka miliki.

Kurang bersosialisai, tidak sportif,  dan inginnya segala sesuatunya serba instan dan cepat jadi, membuat saya berpikir jauh, inikah hasilnya jika anak – anak sedari kecil tidak di bangun dengan karakter – karakter dan nilai – nilai positif melalui permainan tradisional ? Entah, tapi saya mengambil kesimpulannya begitu.

Terkadang orang tua lupa betapa pentingnya aktifitas bermain di masa anak – anak yang menjadi  masa emas mereka untuk membentuk karakter dan budi pekerti yang bisa dibangun lewat permainan tradisional yang mencakup aspek – aspek :

  • Sehat jiwa dan raga, dengan bermain berlari, melompat, duduk, berdiri, jongkok membuat anggota tubuh semua bergerak akan melancarkan peredaran darah, anak – anak akan tumbuh sehat, jika sehat tentu jiwa mereka juga sehat.
  • Sosialisasi, bermain dengan bersama teman – teman sebaya membuat mereka belajar bersosialisai sejak kecil, yang akan menghasilkan pribadi yang ramah dan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.
  • Sportifitas, sedari kecil sudah tertanam jiwa  yang tidak tinggi hati jika berada di atas / memenangkan permainan, tapi juga berani mengakui kekalahan.
  • Proses, dengan permainan tradisional anak – anak akan tahu bahwa segala sesuatunya membutuhkan proses baik berupa benda ataupun sebuah pekerjaan.

ANAK – ANAK SAYA DAN TEMAN – TEMANNYA  JUGA BAHAGIA !

Saya yakin anak – anak sayapun anak – anak yang bahagia, mereka tumbuh optimal dengan bermain. Aulia dan Raihan kedua buah hati  saya tumbuh di lingkungan yang masih memiliki ruang gerak luas, di tambah kehidupan desa yang masih  menyisakan ragam permainan tradisional, membuat keduanya leluasa untuk bermain sepuasnya dengan teman sebaya.

Beberapa hari lalu iseng saya menanyakan kepada Bungsu saya Raihan di depan halaman sekolahnya, teman – temannya sedang bermain apa  ? Dia jawab, putih – putih melati,  merah – merah delima. Sayup – sayup memang terdengar serombongan teman – teman perempuanya dengan riang melagukan – Putih – putih melati, merah – merah delima…..siapa yang baik hati Cinderella pasti di sayang Mama.…..liriknya masih sama ketika saya kecil.

Bermain dengan raut wajah yang gembira

Bermain dengan raut wajah yang gembira

putih - putih melati..merah - merah delima...ini lagu mereka

putih – putih melati..merah – merah delima…ini lagu mereka

Sedangkan serombongan teman – teman laki – laki lainnya berlarian berkejaran tanpa sepatu, rupanya mereka bermain jek – jek an atau biasa di sebut permainan ‘benteng’. Mendengar tawa dan canda mereka, menjadi tanda bahwa mereka bahagia di masa kanak – kanaknya,  tentu ini  akan menjadi pondasi kuat untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia dengan karakter yang baik.

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan

                                              oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa”

Iklan

43 pemikiran pada “MEMBANGUN KARAKTER POSITIF DAN BAHAGIA DENGAN PERMAINAN TRADISIONAL

  1. Hangat hati saya bacanya Mbakyuuu. Sukak deh. Jadi ngebayangin masa kecil saya sendiri. Gilingan tulisan yang ikutan GAnya mbak Lid kok ya bagus-bagus giniii. Omaigaaatttt.. Apa gajadi ikutan aja ya?

  2. Wah asyiknya bisa mengulang permainan era 80-an.
    Sepakat, mbak Lies. Justru bukan masa kecil kurang bahagia, tapi karena masa kecil bahagia banget bisa punya kesempatan bermain, dan kini ingin memperpanjang kebahagiaan tsb dengan memainkannya kembali.
    Sampe sekarang pun saya masih demen lho hujan-hujanan… suka banget kalo rambut, pipi dan hidung ini terlihat basah 🙂

    Permainan yg menyenangkan spt benteng dan gobak sodor itu mestinya tetap dipopulerkan pada anak-anak jaman sekarang.

    • Hihihihi jadi malu sama Pak Iwan, iya nih masa kecil bahagia banget meski dalam keterbatasan materi…

      Hujan2an itu memang menyenangkan cuma sayang, makin ke sini umur makin tambah, kena air hujan dikit langsung meriang hehehe

      Kami tinggal di desa Pak, jadi masih ada anak2 yg tau dan bermain gobag sodor..dan sejenisnya.

      Terima kasih kunjunganya ya Pak..

  3. wah jadi inget masa kecil mba, main galasin, patil lele, gundu/keleci, layangan sampai ikutan ngejar kalo ada yang putus 😀

    Setuju dg quote nya mba, saat masa kecil harus banyak bermain

    Salam kenal ya mba..

  4. Kombinasi strategi dan latihan fisik mewarnai mainan masa kecil dulu. Saya yakin Aulia dan Raihan bahagia masa kecilnya bersama Ayah Bundanya. Sukses di GA ini ya Jeng. Salam

    • Bener sekali Mbak Prih, makanya kenapa anak dulu lebih kuat tantangan di banding anak sekarang yaaa …contoh kecilnya..anak saya sendiri kalo berangkatsekolah jalan kaki aja susahnya minta ampun..banyak alesannya
      Makasih Mbak Prih …

  5. Selain permainan-permainan di atas, ada satu lagi yang membuat masa kecil sangat bahagia, yakni mandi di sungai, hehehe… ini hampir tiap hari. Sepulang sekolah, jadwal saya adalah mengembala kambing. Nah, sambil mengembala kambing itulah saya bluron (mandi dan main air) di sungai bersama teman-teman 🙂

    • Hahahahahaha…..ternyata pernah buron yaaa….emang asik banget masa kecil itu, saya juga suka mandi di sungai …dan jaman dulu itu kok berasa biasa aja ya..campur sama anak2 laki2…dan penampilan kita kan gitu deeehhh hahahahaha

  6. Maaaaiiiin kelereeeeng 😀 wkwkwkw waktu kecil aku jagonya ituuu :p wwkwkkw udah dapet kelereng banyak dari temen-temen yang aku kalahin :p wkwkwk

    kalau enggrang :’ sampe sekarang aku nggak bisa deh :’

    Beda zaman beda permainan juga ya :’ adikku sekarang mainannya game -_- parah, tapi sekarang sedikit2 udah berkurang sih. dia udah membuka diri diluar rumah dengan sepedaan 😀

  7. Haha ngga nyangka Mak Lies jago lompat tinggi. Aku dulu juga jagoan Mak, coba kalau kita seumuran, jadi musuh bebuyutan kita kalau main hihi…

    Nice story Mak.. sukses buat give awaynya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s